Urgensi Kesadaran Sanitasi, Langkah Menciptakan Kebersihan Masjid Adzkiya

Pelataran yang didominasi pepohonan dibeberapa bagian nampak membuatnya terlihat teduh. Masjid Adzkiya, masjid kampus IAIN Metro yang sudah berdiri kokoh sejak institusi masih berstatus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Jurai Siwo. Menjadi sebuah ruang interaksi antara manusia dan Tuhan. Tak kurang dari lima waktu dalam sehari masjid senantiasa didatangi masyarakat kampus yang mendengarkan panggilan azan. Hal ini tak menutup kemungkinan masjid tidak selalu dalam keadaan bersih mengingat tiap manusia berdatangan dengan niat ibadah, bukan untuk membersihkan masjid tiap celah.

 

Semakin bertambahnya usia, masjid Adzkiya perlu diberi perawatan sebaik mungkin supaya masjid bisa selalu didatangi oleh orang-orang mukmin. Saat ini, fasilitas yang ada seperti pendingin ruangan (AC) dan kipas angin, lemari hingga hanger untuk menggantung mukena bagi perempuan cukup membuat orang-orang merasa nyaman di dalam masjid.

 

Sangat disayangkan ketika fasilitas yang disediakan tak dimanfaatkan. Mukena yang tak digantung hanger kerap membuatnya mudah apek serta menjadi sarang nyamuk. Meskipun tak semua dapat dihanger setidaknya mukena yang dilipat dan ditata dapat menjadi solusi. Selain itu, minimnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya, dapat dilihat dari membuang sampah sembarangan ketika sudah disediakan kotak sampah.

 

“Terus kotak sampah disediakan beberapa kotak sampah, namun membuang sampah tetap sembarangan,” kata Munif. Seorang pemuda beralis tebal,  Munif Jazuli, mahasiswa Hukum Tata Negara (HTN) sudah mendedikasikan dirinya menjadi marbut. Setiap harinya ia selalu membersihkan masjid sebagai usahanya untuk membuat lingkungan masjid yang nyaman.

 

Selain itu, kondisi toilet juga membuat penggunanya merasa kurang nyaman. Terutama di toilet perempuan. Sanitasi yang tak terlalu memadai sebab hanya satu toilet yang berfungsi. Sudah berbagai usaha telah dilakukan Munif untuk membersihkan toilet, bahkan ia sudah menggunakan soda api untuk membersihkan. Namun, walhasil sama saja. Tak hanya itu, sumbangsih kebersihan yang buruk juga datang dari pengguna yang tak bijak. Seperti ditemukannya pembalut bekas pakai di toilet yang cukup menganggu indra penciuman.

 

Memang sebetulnya keadaan lingkungan yang tidak sesuai ekpekstasi tidak timbul karena faktor manusia saja, selokan yang kadang kala tampak kotor juga berasal dari fenomena hujan yang tak bisa dihindarkan. Rumput yang cepat sekali tumbuh menjulang hingga lutut manusia dewasa. Daun-daun kering yang terlepas dari ranting pohon dan berserakan dikarenakan tertiup angin. Hal ini juga bagian penyumbang masjid tak sedap dipandang mata.

 

Kembali lagi, untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, perlu adanya kesadaran diri pada masing-masing individu. Tidak perlu saling menyalahkan atas lingkungan yang tidak nyaman karena setiap insan memiliki peran. Bukankah menjaga kebersihan merupakan sebuah ibadah.

 

”Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Semua tergantung kesadaran masing-masing. Walaupun misalnya ada 10 orang yang bersih-bersih tapi yang lainnya masih nggak mau menjaga kebersihan ya sama saja,” ujar Munif.

 

(Reporter/Rizki/Zuki)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0