Press ESC to close

Pengisian Kuesioner Evaluasi di SISMIK Lebih Awal, TIPD: Itu Arahan Fakultas agar Objektif

Setiap mahasiswa membutuhkan Kartu Rencana Studi (KRS) untuk mengakses data akademik. Di Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila), pengaksesan informasi tersebut dilakukan melalui Sistem Informasi Akademik (SISMIK).

Namun, pada setiap semester, mahasiswa kerap terkendala mengakses KRS sebelum memenuhi salah satu instrumen dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), yaitu evaluasi pemenuhan standar pendidikan tinggi. Mahasiswa diwajibkan mengisi tiga kuesioner: Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM), kuesioner sarana dan prasarana, serta kuesioner layanan akademik.

Pada tahun 2025, mekanisme pengisian kuesioner ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya pengisian dilakukan setelah Ujian Akhir Semester (UAS), kini mahasiswa sudah dapat mengisinya sebelum Ujian Tengah Semester (UTS). Perubahan ini menuai ragam tanggapan; mahasiswa merasa belum memiliki gambaran penilaian yang utuh jika pengisian dilakukan terlalu awal, terutama untuk poin EDOM.

Meski secara sistem pengisian dapat dilakukan kapan saja sesuai periode yang ditetapkan, banyak mahasiswa terpaksa mengisi instrumen evaluasi lebih awal demi bisa mengakses KRS ataupun jadwal perkuliahan harian.

Penjelasan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM)

Sarah Ayu Ramadhani, Kepala Pusat Audit Pengendalian Mutu Akademik di LPM, menjelaskan bahwa pihaknya hanya bertanggung jawab menyiapkan instrumen evaluasi. Sementara itu, penetapan waktu publikasi di sistem diserahkan kepada Tim Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD).

“Pihak LPM itu hanya memberikan instrumen, setelah selesai dimasukkan baru hasilnya dikirim ke pihak LPM, untuk penetapan waktu semua urusan tim TIPD,” ujarnya, Rabu (21/01/2026).

Sarah menegaskan bahwa hasil evaluasi ini akan menjadi bahan pembenahan kampus. “Untuk yang tahun ini masih kami analisis, untuk yang semester terakhir ini, tetapi, untuk yang semester sebelumnya hasilnya sudah kami laporkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan setiap data yang masuk dari mahasiswa dijamin kerahasiannya. Publik tidak akan tahu selain pihak yang berwenang. “Terutama dosen, hanya mengetahui sebatas nilai akhir hasil evaluasi, data tidak akan bocor,” ungkapnya.

‎‎Ia berharap hasil evaluasi tersebut dapat menjadi landasan perbaikan bagi kampus ke depan. Evaluasi ini juga diharapkan menjadi bahan bagi dosen untuk mengevaluasi diri berdasarkan hasil kuesioner yang telah diisi mahasiswa.

‎”Semuanya bisa menjadi lebih baik, sehingga pelayanan kepada mahasiswa semakin prima. Jika mahasiswa sudah merasa puas, jumlah mahasiswa pun diharapkan akan meningkat,” harapnya.‎

Baca Juga:  5 Penyakit Kronis Ini Bisa Sembuh dengan Berpuasa

Alasan Objektivitas Penilaian oleh Fakultas

Sementara itu, Ketua TIPD, Haris Setiaji, menerangkan bahwa waktu pengisian sebenarnya bergantung pada kapan mahasiswa melakukan login ke SISMIK.

“Iya, jadi memang pengisian dibuka sebelum UAS. Jika mengakses saat UAS, maka pengisiannya dilakukan pada masa UAS, tetapi, jika mahasiswa login ke SISMIK sebelum UAS, maka pengisian dilakukan sebelum UAS,” terangnya.

Haris mengungkapkan bahwa kebijakan ini diambil berdasarkan hasil rapat dan arahan pihak fakultas untuk menjaga objektivitas. Penilaian setelah UAS dianggap kurang objektif karena cenderung dipengaruhi oleh nilai akhir yang diberikan dosen.

“Bukan, ini karena dikomplain oleh fakultas. Kalau seperti itu enak, dong. Dosen dikasih nilai setelah nilai (mahasiswanya, red.) keluar, jelek ‘kan EDOM-nya,” jelasnya.

Dengan membuka EDOM lebih awal, fakultas ingin melihat penilaian murni mahasiswa tanpa pengaruh hasil ujian. “Jika penilaian dilakukan setelah nilai keluar, mahasiswa tidak lagi bisa berpindah dosen atau menyampaikan masukan. Akibatnya, dosen yang jarang masuk atau kurang maksimal bisa tetap dinilai baik karena tidak ada keluhan,” tambah Haris.

Kebijakan ini sendiri telah berjalan selama dua semester sepanjang tahun 2025. “Kita sudah berjalan dua kali, ya, perubahan waktu penerbitannya dari semester genap dan ganjil tahun 2025,” ujarnya.

Dengan penjelasan tersebut, ia berharap mahasiswa mengisi kuesioner evaluasi secara jujur dan objektif, tanpa dipengaruhi oleh nilai yang diberikan dosen. “Ke depan, mahasiswa harus lebih berani menyampaikan keluhannya, agar evaluasi dosen benar-benar objektif,” harapnya.

Tanggapan Mahasiswa

Menanggapi hal tersebut, Ahmad Fauzan, mahasiswa Ekonomi Syariah (ESy’23), menyebut banyak mahasiswa yang mempertanyakan jadwal publikasi kuesioner yang lebih awal.

“Sebenarnya dari kawan-kawan dipertanyakan, bahwa ketika ingin mengakses jadwal kuliah tidak bisa. Sebelum UAS itu kita sudah disuruh input EDOM,” terangnya.

Ia berharap sistem bisa dikembalikan seperti semula agar tidak menghambat mahasiswa dalam mengakses informasi akademik. “Ke depan jangan ada lagi sistem seperti ini karena bisa menghambat mahasiswa dalam prosesnya,” harapnya.

Senada dengan itu, Arif Tirta Permana (ESy’23) menekankan pentingnya transparansi informasi dari pihak kampus. “Selain itu, sebagai sarana evaluasi, penyampaian dari mahasiswa harus dikelola secara terbuka untuk meningkatkan kepercayaan dan partisipasi mahasiswa,” harapnya.

Reporter: Nerisa/Azizah

Total Views: 1

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *