Press ESC to close

Menyibak Luka Lalu

Rembulan di antara diwala
Kelip pelita merambati kota
Gadis itu berdiri di balik jendela usangnya
Terperangkap dalam segala prasangka

Tangannya begitu lembut dan mungil
Kakinya rapuh terterpa angin
Senyumnya samar, tubuhnya mengigil
Getir, patah, tak ada yang bisa menafsirkan

Rasa yang memantik hatinya
Nafasnya berat menahan asa
Semburat cahaya membersit cakrawala
Memancing detak degup di dalam dadanya

Mentari menelusup menembus jendela
Cahaya memenuhi ruang tinggalnya
Hangat merengkuh tubuh yang sempat taruh
Kekuatan magis merasuk diantara gaduh

Baca Juga:  Fortamadiksi 2019: Minimalisir IPK Turun, Pertahankan Beasiswa dan Prestasi

Denting bising bantu ia merasa
Dunia hari ini tak lagi sama
Meratapi rasa yang terkungkung lama
Melepas menjadi pilihan yang mendilema

Sebelum langit jingga
Sebelum malam gelapkan segalanya
Sebelum rasa sedih kembali tumpulkan asa
Sebelum jagat mengaduk penghuni dunia

Harunya mengabu yang berubah jadi biru
Membiarkan sakit yang lalu bertunas baru
Beri waktu pada waktu yang gagu
Biaran gadis itu bicara, menyibak luka lalu

(Penulis : Mey)

Total Views: 0

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda sedang menyalin teks. Link halaman ini akan disalin juga!