Absen UTS di Lokasi Konser Band

Laporan Khusus : Mustahsin, Feri Anggriawan.
STAIN ; Sabtu (21/1) ratusan mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) tampak terlihat beramai-ramai di lapangan Samber Metro. Pada saat itu juga, di lapangan ada konser Band J-Rock dan Mosquito Band yang diselenggarakan oleh Teura Management. Dari penelusuran Kronika di lokasi, mahasiswa terlihat sibuk mengisi daftar hadir ujian MID semester/ Ujian Tengah Semester (UTS) yang berlabelkan STAIN Jurai Siwo Metro.
Sebelumnya, pada pukul 09.30 WIB mahasiswa berkumpul di kampus STAIN menunggu instruksi selanjutnya dari ketua tingkat masing-masing lokal. Selanjutnya, setelah beberapa jam lamanya mahasiswa menunggu kepastian akan absen yang dijadwalkan pada hari itu, mereka diinstruksikan oleh ketua tingkatnya untuk segera menuju ke lapangan Samber. Hal itu juga, dari keterangan beberapa mahasiswa yang mendapat informasi dari facebook Teura management yang bertuliskan, “To Mahasiswa PBI STAIN Jusi, Tanda tangan daftar hadir MID SEMESTER Speaking tgl 21-1-2012. Info selanjutnya hubungi ketua kelas masing-masing”.
Diketahui, mahasiswa prodi PBI yang mengisi daftar hadir UTS di lapangan yakni semester I dan III yang berjumlah sembilan kelas. Dari berbagai sumber yang dihimpun, daftar hadir tersebut adalah untuk absen MID semester mata kuliah yang diajar oleh Johan Wibowo yang merupakan dosen sekaligus manajer Teura. Dari informasi yang didapat Kronika, pada acara tersebut terdapat beberapa mahasiswi STAIN Metro yang menjadi Sales Promotion Girl (SPG) di stand rokok Fix Mild dengan memakai rok mini dan baju ketat serta tidak berjilbab di lapangan tersebut.
Salah satu mahasiswi semester I yang tidak ingin disebut identitasnya merasa geram menunggu kepastian absen di lapangan Samber. Mahasiswi tersebut mengatakan, “Kayaknya absennya ada yang nyelip di salah satu salon (pengeras suara, red) mungkin. Kumpul di kampus dikasih tau lewat Teura. Kumpul jam sepuluh. Setelah di kampus ngisinya di samber,” katanya dengan raut geram.
Fathur Rohman mahasiswa PBI semester III membeberkan beberapa permasalahan mahasiswa dengan dosen tersebut. Dikatakan Fathur, mengisi daftar hadir di lapangan samber sangat tidak masuk akal. Karena rasa ketidak setujuannya Fathur pun mengaku tidak ikut serta mengisi absensi MID semester di lapangan. Lebih lanjut, Ia pun membeberkan kepada Kronika menyangkut permasalahan terkait beberapa hal yang menyusahkan mahasiswa jika diajar oleh Johan.
Dari keterangan Fathur, dosen tersebut jarang sekali masuk. “Dosennya jarang masuk, sekali masuk kami disuruh absen empat kali tanda tangan. Kemauannya juga aneh-aneh, disuruh nge-like dan coment di setiap update status facebook yang sebelumnya diinstruksikan dari ketua kelas,” bebernya. Selain itu juga, Fathur merasa geram ketika melihat dosen tersebut merokok di kelas saat mengajar. “Menurut saya merokok di kelas sangat tidak bisa menjadi panutan seorang dosen seperti itu. Apalagi merokok di depan mahasiswa terang-terangan, bahkan saat itu meminjam korek api kepada mahasiswa karena tidak membawa korek api,” ungkap Fathur.
Berikutnya, Fathur pun mempertanyakan mengenai logo STAIN Jurai Siwo Metro yang terpampang dalam pamflet bersandingkan dengan iklan rokok Fix Mild. “Setau saya, di Perguruan Tinggi mana pun baik itu umum, sebagai lembaga pendidikan iklan rokok tidak boleh masuk kampus. Apalagi logo kebesaran STAIN disandingkan dengan rokok. Dan lebih jelas lagi di pamflet itu tertulis “Ready to Rock” yang artinya siap untuk nge-Rock. Gak sesuai dengan label STAINnya. Saya ketahui juga, misi STAIN Metro untuk mencetak generasi yang intelektual dan mulia, malah mau nge-Rock. Jadi mau dibawa ke mana STAIN ini?,” tuturnya panjang lebar.
Terkait hal ini pun Kronika melakukan konfirmasi pada Senin (23/1) kepada Johan Wibowo. Dijelaskan Johan, acara konser tersebut dilaksanakan atas kerjasama BEM PBI dan Teura Management. Mengenai absen MID semester di lapangan, Johan mengatakan bahwa untuk masalah absen di lapangan yang membawa yakni ketua kelas. Dari keterangan Johan, Ia tidak pernah menyuruh mahasiswa absen di lapangan. Karena dijelaskannya, semua ketua kelas yang di PBI membantunya karena menjadi crew event. “Jadi absen mau di lapangan atau di kampus itu terserah ketua kelasnya,” tuturnya.
Menyangkut SPG, Johan memberi keterangan bahwa dirinya kurang mengetahui bila ada mahasiswa STAIN yang menjadi SPG. “Saya menggunakan Open recruitment jika itu ada saya tidak tau,” ujarnya. Untuk masalah coment dan like status di facebook, Johan mengatakan tidak pernah menggunakan kata wajib, yang hal itu dikatakannya bisa dilihat di facebook Teura.
Selanjutnya, mengenai masalah nilai dari keterangan Johan sudah keluar satu bulan yang lalu, sebelum acara konser diadakan. Dikatakannya juga, mahasiswa mau ikut atau tidak ikut, tidak akan mempengaruhi nilai. “Tidak ada yang mewajibkan mahasiswa datang. Sekedar info ya, dan jangan pernah anda berfikir masalah nilai. Nilai Mahasiswa itu sudah jadi sebulan yang lalu,” kata Johan.
Menyangkut masalah logo Johan menjelaskan bahwa sebenarnya pemasangan logo baliho seharga Rp 13 juta per baliho. Namun untuk pemasangan logo STAIN di publikasi acara tersebut gratis tidak dipungut biaya sepeserpun. Mengenai hal ini juga, dari keterangan Johan sudah ada komunikasi kepada pihak lembaga yakni Ketua Jurusan Tarbiyah dan Pembantu Ketua IV.
Lebih lanjut, Johan memberitahu seharusnya di lapangan Samber sekitar pukul 20.00 WIB ada pemutaran profil STAIN. Namun karena hujan yang begitu deras sampai melebihi jadwal pemutaran. Maka tidak diputar, karena dijelaskannya bila diputar dikhawatirkan akan merusak proyektor.
Terkait kerjasama dengan BEM PBI dibenarkan Mukhtar Syafaat selaku Bupati BEM PBI. “Yang jelas itu kerjasama BEM Prodi PBI dengan Teura management. Karena yang dibutuhkan dari kami proses pembelajaran di situ mendapat pengalaman,” paparnya. Dijelaskan juga, acara tersebut tidak membutuhkan dana dari lembaga. Sementara awal kerjasama yang menggagas yakni dari Teura dengan mengajak BEM PBI. “Pada awalnya ngobrol-ngobrol. Kemudian ada ide tersebut untuk mencari pengalaman. Jadi kenapa tidak,” tutur Dia.
Menyangkut pernyataan Johan mengenai absensi di lapangan yang hal tersebut dari ketua kelas, dibenarkan Farid mahasiswa PBI semester I yang juga merupakan ketua kelas di lokal C karena ketidaksengajaan. “Iya ketua tingkat sendiri, karena waktu itu juga teman-teman di kampus itu pada kebingungan, kita ini gimana? Gini-gini. Yaudah kalau kalian suntuk di kampus ya udah kalian maen-maen ja ke sini (Lapangan Samber, red) tidak papa sekalian dari pada nganggur tidak ada hiburan kan gitukan,” kata Farid kemarin (23/1).
Dikatakannya juga, alasan absensi tidak dibawa ke kampus dari keterangannya karena saat memegang absensi MID semester Ia bersama teman-temannya sedang berada di lapangan. “ngapain dibawa di kampuslah orang temen-temen pada di sana, jadi ngapain kita susah-suah dibawa ke kampus lagi orang udah di sana jadi di sana aj,” ucap Farid.
Menyangkut masalah like dan coment status di facebook Farid mengakui kalau pihaknya mendapat instruksi dari Johan Wibowo untuk memberikan instruksi lagi kepada mahasiswa satu lokalnya. “Untuk instruksinya itu sendiri langsung dari dosennya langsung, yaitu bapak Jo (Johan Wibowo, red). Ya Cuma minta bantuannya untuk nge-like gitu ,” jelasnya.
Namun salah satu mahasiswa yang satu lokal dengan Farid memberikan informasi bahwa sebelum mahasiswa satu kelasnya berkumpul di kampus sudah mengetahui akan disuruh ke lapangan Samber. Hal yang sama dikatakan Fathur. Dari keterangan Fathur ketua kelas selalu mendapat instruksi dari dosen (Johan Wibowo) baik itu mengenai absen dan facebook. Hal itu menurutnya tidak mungkin terjadi secara kebetulan yang juga semua kelas dari semester I dan III kompak absensi di lapangan. Fathur pun menunjukkan bukti file dari grup tertutup kelasnya yang bernama Diamond Class PBI.
Di grup tersebut ketua tingkatnya yakni Surya Cahyadi yang nama facebooknya Yayan Cahyadi menuliskan status kalau dirinya (Surya) merupakan penghubung di antara mahasiswa dan dosen. Pada statusnya tertuliskan dengan jelas, “Mohon maaf buat temen-temen hari ini yang tersinggung dengan kata-kata di sms. Demi Allah aku tidak ada niat berkata kasar. Karena kami semua ketua kelas hari ini shock mendengar Mr. Jo hari ini berikan dead line untuk nandai anak-anak yang belum like status. Kami takut jika teman-teman semua tersangkut masalah dengan Mr. Jo dan kami pun gak mau teman-teman mengalami hal itu. Makanya kami berjuang untuk kalian, kami hari ini mengemis untuk memohon diberikan kesempatan sampai besok. Akhirnya Mr. Jo berikan kami kesempatan. Jadi dimohon untuk mengerti perjuangan kami untuk kalian, trims, wassalam,” tulis Surya di status grup Diamond Class PBI.
Selain itu juga Surya menuliskan dengan jelas yakni, “Saya penghubung antara kalian dan dosen. Kenapa masih ada yang bilang saya pro dengan dosen. Kenapa saya yang selalu disalahkan. Bila Anda pingin tahu posisi saya seperti apa. Sekarang juga saya akan mundur sebagai ketua tingkat dan silahkan Anda menggantikan posisi saya. Jadi gak usah ngomong yang macem-macem, saya sudah pusing dengan tuntutan Anda. Saya ingin hidup tenang,” keluh Surya dalam Facebook kepada teman-teman satu kelasnya.
Dari status tersebut pun muncul komentar-komentar adu argumen dari teman sekelasnya. Fathur membeberkan bahwa mahasiswa PBI sebenarnya banyak yang menolak, hanya saja mahasiswa takut untuk mengatakan sebenarnya. Pihaknya pun siap dipertemukan dengan Johan Wibowo, karena Ia mempunyai bukti kuat. Saat Kronika berusaha menghubungi Surya via handphone, namun tidak pernah mendapat jawaban.
Pada penyelesaian masalah ini juga, Fathur memberikan tuntutannya. Pertama, kepada pihak lembaga untuk bertindak tegas agar dosen tersebut tidak mengajar lagi di PBI karena menyusahkan mahasiswa, dan juga membuat mahasiswa takut dengan nilai. Kedua, adanya ketegasan ketika ada dosen yang tidak sesuai dengan profesinya sebagai dosen dalam mendidik. Ketiga, Pihak pimpinan jangan terkesan melindungi, harus ada juga kode etik dosen. Hal itu menurutnya untuk membatasi perilaku dosen jika ada yang semena-mena terhadap mahasiswa. Terakhir dari lembaga ada perlindungan bagi mahasiswa yang menjadi saksi dalam mengungkap suatu kebenaran.
Fathur juga memberi masukan kepada teman-temannya di PBI untuk tidak takut mengungkap kebenaran. “Nasib kita tidak dijamin oleh nilai atau dosen. Tapi nasib kita didapat dari bagaimana nanti usaha kita. Karena Allah itu selalu ada,” tutur Fathur.
Terkait masalah komunikasi pemasangan logo, Khusnul Fatarib selaku Pembantu Ketua IV menjelaskan bahwa pihaknya hanya diberi pamflet yang di situ sudah ada logo STAIN Metro. “Johan pernah bilang, kita ada acara musik dan ini brosurnya dan ada logo STAIN, katanya gitu. “oh ya terimakasih, kata saya. Habis itu ya udah. Seingat saya sebelum Dia (Johan Wibowo, red) itu mengasih brosur, Dia pernah mengatakan kalau dia akan mengadakan pagelaran musik, waktu itu sempat tegang, entah kapan itu ya, masa sih musik-musik kan lagi ada orang kuliah, tapi semua itu saya guyon ya sama Dia. terus abis itu saya bilang tidak boleh di dalam kampus dan itu di dalam kondisi guyon (bercanda, red) juga terus kemudian itu ya dan tidak lebih dari itu,” papar Khusnul.
Dikatakannya juga, mengenai iklan rokok pihaknya sangat tidak setuju dengan mengatakan,“rokok itu haram bagi saya,” ucapnya. Selanjutnya dikatakan Khusnul, mengenai iklan yang seharusnya tahu adalah dari semua pihak pimpinan STAIN yang juga sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan ketua jurusan.
Kronika pun menemui Pembantu Ketua I yang mengurusi bidang akademik, Mukhtar Hadi kemarin (23/1). Ia menjelaskan bahwa segala hal urusan kampus yang dikaitkan dengan urusan pribadi dalam kepentingan promosi tidak dibenarkan. “Semestinya yang seperti itu tidak perlu terjadi, urusan akademik ya di kampus. Urusan konser ya konser, kan persoalannya sudah lain, iya kan? Jadi tidak bisa dicampurkan. Tapi ini kalau betul loh ya. Saya juga baru dapat sms tadi, soal itu. Kalau betul mahasiswa absen di tempat konser, itu perbuatan yang tidak benar. Mungkin karena ini hari libur nanti kita panggil ya pak Johannya untuk dikonfirmasi apa benar seperti itu,” papar Mukhtar.
Terkait masalah ini Mukhtar Hadi pun memberi masukan kepada mahasiswa untuk bisa menolak jika tidak sesuai dengan urusan akademis. “Seharusnya mahasiswa harus bisa dan berani menolak. jadi bila mahasiswanya sendiri tidak berani menolak, ya gimana. Jadi hal-hal yang berkaitan dengan kampus yang dibawa ke urusan-urusan yang bersifat pribadi, mahasiswa harus berani menolak,” tegas Mukhtar. Puket I ini pun menjelaskan STAIN akan segera membahas kode etik dosen karena bersamaan dengan mendapat surat instruksi dari pusat bahwa setiap Perguruan Tinggi untuk segera membuat kode etik dosen.
Terkait logo STAIN di pamflet Mukhtar juga memberi keterangan bahwa pihaknya hanya diberitahu secara lisan saja. “Setahu saya pamflet itu secara lisan. Itu memang seperti sudah memberitahu secara lisan dan kepentingannya untuk dipromosikan aja sama kegiatan konser itu. Dan untuk masalah logo saya tidak tau pasti komitmennya seperti apa. Dan memang saya dikasih tau secara lisan bahwa logo itu dimasukkan dalam rangka untuk sosialisasi STAIN,” tuturnya.
Namun saat masalah ini akan dikonfirmasikan kepada Edi Kusnadi selaku Ketua STAIN pada Senin (23/1) di kediamannya. Edi Kusnadi tidak ingin memberikan jawaban apapun karena belum tahu kejelasannya yang sebenarnya dan mengatakan pihaknya baru mengetahui masalah tersebut dari Kronika saat ditemui. “Saya kira begini karena saya baru pulang dari Ranau kemarin dan saya belum tahu. Dan saya tidak bisa menjawab karena ini juga di rumah dan ini juga berkaitan dengan kantor jadi saya kira di kantor aja, dan saya juga mau cari kejelasan dulu karena bila tiba-tiba saya menjawab kan saya belum tau apa-apa. Apa lagi yang ditanyakan yang ini lagi. saya juga baru tahu, hanya dari kalian (Kronika, red) saja,” tuturnya.
Namun pernyataan Edi Kusnadi yang mengatakan pihaknya baru mengetahui masalah tersebut dari Kronika, perlu dipertanyakan. Karena sebelumnya, Mukhtar Hadi memberikan informasi bahwa pihaknya telah mendapat sms dari Edi Kusnadi (Ketua STAIN Metro) kalau ada yang sms dari wali mahasiswa menyangkut masalah ini. Dari keterangan Mukhtar Hadi yang ditujukan kepada Edi Kusnadi yang mengirim sms kepadanya. “SMS itu bertuliskan, Saya Orang Tua salah satu mahasiswa PBI. Anak saya pulang jam sepuluh malam, katanya untuk wajib mengisi absen dan nonton konser di lapangan. Apakah ada kebijakan seperti itu. Mohon ditindak lanjuti,” kata Mukhtar Hadi sambil mengingat isi tulisan sms dari Edi Kusnadi tersebut sebelum Kronika menemui Ketua STAIN Metro.[]
sebenarnya semua cara halal dalam hal muamalah, selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. sekarang silahkan dilihat di kode etik dan STATUTA, ada aturanya tidak? kalau diatur tidak boleh maka yang dilakukan salah. namun kalau boleh maka mahasiswa harus nurut tentunya,.