Belakangan ini, isu mengenai munculnya varian baru virus influenza di Indonesia makin marak terdengar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul ditemukannya kasus influenza A subclade K yang belakangan dikenal masyarakat dengan sebutan super flu.
Varian influenza ini menjadi perhatian karena dinilai memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dibandingkan influenza musiman.
Selain mudah menular, varian ini juga berpotensi menyebabkan gejala yang lebih berat, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta atau kondisi kesehatan tertentu.
Munculnya varian baru tersebut menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Influenza yang selama ini kerap dianggap sebagai penyakit ringan, pada kondisi tertentu dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan baik.
Apa yang Dimaksud dengan Super Flu?
Istilah super flu sejatinya bukan istilah resmi dalam dunia medis. Sebutan ini digunakan secara populer untuk menggambarkan varian influenza yang dianggap lebih mudah menular dan berpotensi menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa.
Dalam dunia medis, virus ini tetap diklasifikasikan sebagai influenza tipe A subtipe H3N2 dengan subclade K. Hingga saat ini, tidak ada perubahan mendasar dalam prinsip penanganan medisnya.
Meski begitu, para ahli kesehatan menekankan pentingnya kewaspadaan lebih tinggi, terutama dalam memantau kondisi pasien dari kelompok berisiko.
Asal-usul Varian dan Kondisi Global
Secara ilmiah, virus yang dijuluki super flu ini diidentifikasi sebagai influenza tipe A subtipe H3N2 dengan subclade K. Varian ini pertama kali terdeteksi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Sejak akhir September 2025, peningkatan kasus influenza A subtipe H3N2 mulai terpantau di Amerika Serikat, bertepatan dengan masuknya musim dingin. Dalam periode tersebut, penyebaran virus ini dilaporkan semakin meluas.
CDC mencatat hingga 20 Desember 2025, sedikitnya 7,5 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi influenza. Dari jumlah tersebut, sekitar 81.000 pasien harus menjalani perawatan di rumah sakit, sementara lebih dari 3.100 kasus dilaporkan berujung pada kematian.
Sejumlah negara bagian, seperti Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina, mencatat tingkat prevalensi influenza yang sangat tinggi. Seluruh indikator pemantauan utama juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.
Perkembangan Kasus di Indonesia
Data dari Kemenkes menunjukkan, per tanggal 25 Desember 2025, terdapat 62 kasus super flu yang telah ditemukan di Indonesia. Dari jumlah itu, mayoritas ditemukan pada usia anak dengan 35% pada usia 1-10 tahun dan 19,4% pada usia 11-20 tahun.
Total kasus super flu tersebar di delapan Provinsi. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi dengan kasus terbanyak yakni 23 kasus, disusul oleh Kalimantan Selatan dengan 18 kasus, Jawa Barat 10 kasus, Sumatera Selatan lima kasus, dan Jawa Tengah, Sulawesi Utara, serta Yogyakarta masing-masing satu kasus.
Meski jumlah kasus masih tergolong terbatas, temuan ini menunjukkan bahwa varian influenza tersebut telah beredar di dalam negeri.
Kondisi ini menegaskan pentingnya peningkatan kewaspadaan, khususnya di lingkungan keluarga, sekolah, dan fasilitas umum sebagai tempat mobilitas terdekat masyarakat.
Gejala dan Risiko Kematian
Gejala influenza H3N2 subclade K pada umumnya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lelah yang cukup berat. Pada sebagian pasien, gejala dapat muncul secara tiba-tiba dan terasa lebih intens.
Pada kelompok rentan, infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi serius, seperti pneumonia atau infeksi saluran pernapasan akut berat.
Meski begitu, para ahli menegaskan bahwa risiko fatal lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi kesehatan pasien dan kecepatan penanganan medis, bukan semata-mata oleh jenis variannya.
Penanganan dan Upaya Pencegahan
Pasien dengan gejala ringan umumnya dapat menjalani perawatan rawat jalan dengan pemantauan. Sementara itu, pasien dengan gejala berat atau yang memiliki risiko tinggi disarankan untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Dalam hal pencegahan, vaksinasi influenza tetap dianjurkan meskipun vaksin yang tersedia saat ini belum secara khusus dirancang untuk subclade K. Vaksin influenza diketahui masih dapat memberikan perlindungan dan mengurangi tingkat keparahan penyakit.
Selain vaksinasi, masyarakat juga dianjurkan untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan masker saat berada di keramaian atau ketika sakit, serta membatasi aktivitas di luar rumah apabila mengalami gejala flu.
Penulis: Anggun Desiliana
Sumber:
https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5yd0v4kx8xo
https://rsjrw.id/artikel/kenapa-superflu-jadi-sorotan-yuk-kenali-faktanya