
Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila) terus mempercepat proses pembangunan infrastruktur penunjang akademik sebagai bagian dari penguatan kualitas pendidikan tinggi. Salah satu proyek strategis yang tengah dikebut ialah pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu lima lantai yang berlokasi di Kampus II, tepatnya di belakang Perpustakaan Bait Al Hikmah.
Gedung Laboratorium Terpadu yang mulai dibangun sejak tahun 2025 tersebut direncanakan akan menelan anggaran sekitar Rp6 miliar untuk memenuhi kebutuhan fasilitas di dalamnya. Fasilitas yang sedang disiapkan dirancang untuk mendukung pelaksanaan kegiatan praktikum, penelitian, dan pengembangan keilmuan mahasiswa lintas program studi (Prodi). Kehadiran laboratorium terpadu tersebut juga berguna untuk memperkuat kualitas pendidikan dan daya saing institusi di lingkungan UIN Jusila.
Pembagian Fungsi Masing-masing Lantai
Setiap lantai Gedung Laboratorium Terpadu telah memiliki fungsi khusus dan struktural. Lantai dasar difungsikan sebagai laboratorium Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), ruang fotografi, serta Information and Communication Technology (ICT) yang digunakan sebagai pusat data.
“Ruang data dan segala macam itu ada di lantai satu. Kenapa ada di lantai satu? Karena itu urgent serta melibatkan peralatan yang berat,” jelas Supendi selaku Perencana Ahli Muda, Selasa (03/02/2026).
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa lantai dua akan digunakan sebagai ruang laboratorium komputer dan microteaching, laboratorium peradilan agama, bank mini, serta ruang podcast yang dapat dimanfaatkan oleh civitas academica. “Laboratorium Arbitrase itu untuk penyelesaian sengketa dan ada ruang podcast yang bisa digunakan oleh siapa saja,” terangnya.
Sementara itu, pada lantai lima nantinya disiapkan ruang telekonferensi sekaligus fasilitas Televisi TV broadcast kampus. Keberadaan studio ini dirancang sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan keterampilan jurnalistik mahasiswa. “Ke depannya UIN Jusila akan memiliki studio TV sendiri sehingga kita bisa expose, bisa belajar,” ujarnya.
Selain itu, gedung ini juga akan dilengkapi teknologi penunjang lainnya, seperti alat penguji kehalalan kandungan makanan serta laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mencakup fisika, kimia, dan biologi. Salah satu fasilitas unggulan yang dirancang ialah laboratorium Ilmu Falak dengan teknologi observatorium scopedome, yang nantinya akan berada di lantai atap lima.
“Di Sumatera ini baru ada kurang lebih tiga. Kalau perguruan tinggi baru ada dua yang memiliki teknologi itu: Satu di IAIN Lhokseumawe, yang kedua di Universitas Muhammadiyah Medan. Kita akan menjadi mungkin yang ketiga memiliki peralatan scopedome atau observatorium sebagai laboratorium Ilmu Falak,” tuturnya.
Untuk melengkapi fasilitas tersebut, pihak kampus telah memesan berbagai sarana penunjang, seperti scopedome yang saat ini masih dalam tahap negosiasi pengadaan. Karena belum bisa diproduksi di dalam negeri, alat tersebut harus diimpor dari luar negeri.
“Itu satu set. Ada scopedome, scopedome itu rumah, yang kalau kita gunakan bisa membuka, kemudian kalau tidak digunakan mungkin menutup. Nah, itu kita ada alatnya impor, kita tidak bisa memproduksi itu khusus. Kemudian ada peralatan pengolah datanya. Termasuk teropong, kemudian mungkin teodolit, dan beberapa peralatan lainnya,” ungkapnya.
Pendanaan dan Standar Laboratorium
Terkait pelengkap fasilitas laboratorium, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Total kebutuhan pengadaan peralatan laboratorium diperkirakan mencapai sekitar Rp15 miliar. Namun, anggaran yang tersedia saat ini masih terbatas. “Tapi, anggaran kita ‘kan tidak sebesar itu. Anggaran kita hanya sekitar Rp6 miliar. Artinya hanya sekitar 40 persen, maka sebagian nanti kita menggunakan peralatan yang sudah ada,” jelanya.
Adapun pendanaan pembangunan gedung laboratorium tersebut masih bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ke depan, pihak kampus berencana melengkapi kekurangan fasilitas secara bertahap melalui anggaran tahunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). “Kita masih include dengan dana yang ada. Nanti ke depan, pelan tapi pasti setiap tahun kita akan anggarkan kebutuhan-kebutuhan, termasuk peralatan yang kurang,” ungkapnya.
Proyek pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu ini ditargetkan rampung pada 25 Mei 2026. Setelah proses serah terima, gedung tersebut direncanakan mulai dimanfaatkan pada pertengahan tahun. “Setelah itu kita penyerahan dan bisa dimanfaatkan, mungkin Juli atau kurang lebih semester ganjil gedung ini bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Pengelolaan, Pemanfaatan, dan Keamanan Gedung
Untuk kebutuhan operasional, pengelolaan laboratorium akan ditangani oleh teknisi internal kampus. Supendi sendiri menegaskan bahwa tidak ada perekrutan teknisi dari luar. “Karena kalau kita mempekerjakan orang luar itu artinya, ya, kita merekrutmen tenaga. Kita memang tidak ada sistem seperti itu. Teknisi dari kampus UIN Jusila saja,” ungkapnya.
Selain dimanfaatkan oleh civitas academica, laboratorium terpadu juga dapat digunakan oleh masyarakat umum. Beberapa fasilitas bahkan dirancang untuk pelayanan langsung kepada masyarakat. “Contoh kita punya lab arbitrase dan balai nikah, itu bahkan bisa digunakan untuk akad nikah. Kalau ada perselisihan hukum, bisa dimediasi di ruang arbitrase. Jadi benar-benar digunakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi keamanan, gedung laboratorium telah dilengkapi dengan sistem keselamatan yang memadai, seperti hidran, alarm kebakaran, dan kamera pengawas. “Kalau sistem kebakaran kita sudah ada hidran, alarm kebakaran, dan CCTV. Selebihnya kita jaga bersama-sama,” pungkasnya.
Terakhir, Supendi berharap proses pembangunan dapat berjalan lancar tanpa hambatan. “Bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk seluruh mahasiswa, civitas academica, maupun masyarakat secara umum,” harapnya.
Tanggapan Mahasiswa Terkait Pembangunan Laboratorium
Muhammad Rifa’i Faqih, mahasiswa Prodi Tadris Biologi (TBio’25), menyampaikan rasa senangnya atas pembangunan laboratorium baru tersebut. Menurutnya, keberadaan laboratorium ini akan sangat bermanfaat, khususnya bagi mahasiswa biologi, dalam menunjang kegiatan pembelajaran praktikum.
“Kita akan memiliki laboratorium yang sesuai dengan standar laboratorium yang ada, saya sendiri selaku mahasiswa biologi sangat menunggu pembangunan laboratorium itu cepat diselesaikan. Supaya kami, terutama mahasiswa biologi, dapat menggunakannya,” ungkapnya.
Faqih berharap pembangunan laboratorium ini dapat segera diselesaikan tanpa kendala yang berarti serta memenuhi standar laboratorium pada umumnya. “Semoga pembangunan cepat diselesaikan tanpa ada kendala yang berarti, fasilitasnya memadai, dan laboratorium tersebut sesuai standar laboratorium yang ada,” harapnya.
Tanggapan serupa juga disampaikan Khafifah Ramadhani (TBio’24). Ia mengaku sangat senang dengan pembangunan laboratorium tersebut karena nantinya mahasiswa dapat belajar lebih mendalam dengan fasilitas yang tersedia.
“Saya sebagai salah satu mahasiswa Prodi TBio turut bersenang hati dengan pembangunan laboratorium ini. Hal tersebut merupakan salah satu aksi nyata dari pihak prodi dan kampus agar para mahasiswa lebih nyaman dan mudah dalam proses belajar dengan adanya fasilitas yang memadai,” ungkapnya.
Khafifah berharap ke depan akan makin banyak kabar baik bagi mahasiswa UIN Jusila, khususnya terkait penyediaan fasilitas penunjang pembelajaran. “Ke depannya akan ada lebih banyak kabar gembira untuk kami para mahasiswa, khususnya Prodi TBio terkait fasilitas ataupun hal-hal yang lain untuk menunjang kenyamanan dalam proses belajar,” harapnya.
Reporter: Nabila/Rehan
Ralat: Terdapat kekeliruan dalam redaksi penulisan angka kisaran pembangunan gedung. Anggaran Rp6 miliar yang dimaksud adalah anggaran untuk pemenuhan fasilitas di dalamnya. Terima kasih.
Tinggalkan Balasan