Penginputan KRS Molor, Kampus Dinilai Teledor

Ilustrasi: Dok.Kronika/Rehan

Memasuki awal semester, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila) mulai melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) sebagai bagian penting dari proses akademik. KRS menjadi acuan utama mahasiswa dalam menentukan mata kuliah yang akan diambil sesuai dengan kurikulum dan jumlah Satuan Kredit Semester (SKS) yang ditetapkan oleh pihak universitas.

‎‎‎Pada semester genap 2026 ini, penginputan KRS yang biasanya dapat dilakukan setelah 1 × 24 jam kerja pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), justru mengalami kemoloran. Menurut kalender akademik UIN Jusila 2025, pembayaran UKT telah dibuka sejak 9 Januari 2026.

Namun, memasuki pekan kedua sejak tanggal tersebut ditetapkan, sebagian mahasiswa UIN Jusila masih belum dapat melakukan pengisian KRS, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya proses perkuliahan.

‎‎Haris Setiaji selaku Kepala Unit Penunjang Akademik, Teknologi, Informasi, dan Pangkalan Data (TIPD) mengatakan bahwa keterlambatan tersebut dikarenakan pihak akademik fakultas yang belum menyiapkan kuota mahasiswa dalam satu kelas.

“Yang pertama belum menyiapkan pembagian kelas, ada operasionalnya di fakultas masing-masing,” ungkapnya saat diwawancarai Kronika, Senin (19/01/2026).

‎‎Lebih lanjut, ia menegaskan keterlambatan pengisian KRS bukan disebabkan oleh gangguan sistem, melainkan karena proses pembagian kelas oleh fakultas yang belum selesai. Akibatnya, meskipun pembayaran di Sistem Informasi Akademik (Sismik) sudah tercatat, mahasiswa belum dapat mengakses kelas yang tersedia.‎

‎“Seharusnya sejak awal pengisian KRS sudah bisa dilakukan. Namun, jika kuota kelas belum diisi oleh fakultas, meskipun pembayaran sudah sinkron di Sismik, mahasiswa tetap belum dapat mengisi karena kelas belum disiapkan, sehingga saat mengakses KRS data masih kosong,” tegasnya.

‎‎Ia memberikan anjuran agar mahasiswa lebih sabar menghadapi kasus-kasus seperti itu. “Ya, tunggu saja, hak kalian sebagai mahasiswa tidak akan hilang,” jelasnya.

‎‎Apri Ramadhan selaku teknisi Sismik juga menambahkan jika kejadian tersebut terjadi karena kurangnya komunikasi antar staf. “Kejadian ini tidak disertai pengumuman, seharusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu,” tambahnya.‎

‎Ia juga mengungkapkan jika keterlambatan tersebut kemungkinan disebabkan oleh proses transformasi menjadi universitas serta banyaknya hal lain yang perlu ditangani, sehingga perhatian terhadap pengelolaan KRS menjadi kurang optimal.

‎“Ini juga mungkin salah satu dampak kita menjadi UIN, karena banyak hal yang harus diurus, seperti belum turunnya akreditasi kampus serta ijazah alumni yang belum turun,” tuturnya.

‎Lebih lanjut, ia menjelaskan bila penginputan KRS sudah dapat dilakukan mulai Senin, 19 Januari 2026. “Saya sudah bertanya kepada pimpinan, insyaallah mulai Senin hari ini sudah bisa input KRS,” tegasnya.

‎‎Apri juga memberikan tanggapan jika hal tersebut merupakan hal yang wajar terjadi dalam birokrasi lembaga. “Mungkin ini miskomunikasi saja, karena repotnya kita dengan transformasi kampus,” ucapnya.‎

‎Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan komunikasi dengan pihak-pihak terkait di bidang masing-masing dapat lebih ditingkatkan.

‎“Seharusnya informasi disampaikan melalui Instagram atau Sismik jika terjadi kemoloran seperti ini, agar memudahkan mahasiswa. Semoga ke depan hal serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.

Mengenai persoalan tersebut, Arief Gunawan, mahasiswa Tadris Matematika (TMTK’23) memberikan tanggapannya. Ia menilai keterlambatan pengisian KRS bukan pertama kali terjadi dan kerap menyulitkan mahasiswa.

Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan mahasiswa semester tinggi yang tengah dikejar tenggat pendaftaran asistensi mengajar, keterlambatan penginputan KRS hingga beberapa hari terakhir menimbulkan kekhawatiran di kalangan mahasiswa.‎

‎”Kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali, sangat merepotkan mahasiswa, apalagi semester enam diburu untuk asistensi mengajar deadline tanggal 26 Januari, ini sudah tanggal 19, tentunya buat mahasiswa ketar-ketir. Karena ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk melakukan pendaftaran asistensi mengajar, salah satunya input KRS. Sampai sekarang belum bisa input padahal sudah empat hari yang lalu (melakukan pembayaran UKT, red.),” ungkapnya.

‎‎Ia juga menyampaikan harapan agar penyampaian informasi terkait akademik dapat lebih diperhatikan dan ditingkatkan ke depannya. Menurutnya, kejelasan informasi sangat penting agar mahasiswa tidak mengalami kebingungan maupun kendala dalam mengurus administrasi perkuliahan.

“Informasi terkait Sismik harus di kompleks ‘kan lagi. Jangan sampai ada kendala teknis lagi, karena mahasiswa itu cukup kompleks yang harus dilaksanakan. Jangan sampai menghambat proses mahasiswa dalam mengurus administrasi,” harapnya.‎

‎Tanggapan lain datang juga dari Rahma Nafilatuz Zulfa, mahasiswa Tadris Biologi (TBIO’25). Ia beranggapan jika kampus seharusnya dapat memberikan informasi transparan. “Menginfokan yang lebih jelas lagi, contohnya memberikan surat edaran yang resmi terkait kemoloran input KRS,” tuturnya.

‎‎Rahma juga memberikan harapannya agar kejadian seperti ini tidak terulang di kemudian hari. “Ke depan semoga setelah kejadian ini, ya, tidak terjadi lagi, cukup kali ini saja,” tutupnya.

‎‎Reporter: Rafi/Anggun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *