Press ESC to close

Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar, tetapi Tempat Bertumbuh

Sekolah sering dipahami sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Padahal lebih dari itu, sekolah adalah ruang pembentukan budaya. Cara siswa berbicara, menghargai orang lain, menjaga lingkungan, hingga memahami disiplin, sebagian besar tumbuh dari budaya yang mereka lihat setiap hari di lingkungan sekolah.

Karena itu, membangun pendidikan tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum dan nilai akademik, tetapi juga harus memperkuat manajemen budaya dan lingkungan sekolah sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik.

Persoalan mengenai budaya dan lingkungan sekolah ini menjadi salah satu refleksi penting yang muncul dalam proses pembelajaran mata kuliah Konsep Manajemen Budaya dan Lingkungan Sekolah. Saya selaku penulis yakni Euis Nurlaela, S.Pd. (251012700092) sebagai mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang (UNPAM) di kelas 02MPDM003, dan Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H. selaku dosen pengampu.

Dari ruang diskusi akademik tersebut, muncul pemahaman bahwa sekolah sesungguhnya bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, melainkan ruang sosial yang membentuk karakter, pola pikir, kebiasaan, hingga cara peserta didik membangun relasi dengan lingkungan sekitarnya dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, banyak sekolah masih terlalu fokus pada capaian angka, sementara budaya sekolah sering dianggap urusan pelengkap. Padahal budaya sekolah memiliki pengaruh besar terhadap kualitas pembelajaran dan kesehatan psikologis peserta didik.

Data UNESCO menunjukkan bahwa sekitar 32% siswa di dunia pernah mengalami perundungan di lingkungan sekolah. Sementara laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 juga menunjukkan bahwa siswa yang merasa memiliki lingkungan sekolah suportif cenderung memiliki performa akademik dan kesehatan mental yang lebih baik dibanding siswa yang merasa terasing di sekolahnya.

Ketika melihat di Indonesia sendiri, persoalan lingkungan sekolah juga masih menjadi tantangan serius. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ribuan kasus kekerasan terhadap anak terjadi di lingkungan pendidikan setiap tahunnya.

Bentuknya bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga verbal, sosial, hingga tekanan psikologis yang sering dianggap hal biasa. Angka ini menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang peserta didik.

Masalah budaya sekolah sebenarnya tidak selalu terlihat dalam bentuk konflik besar. Kadang ia muncul lewat hal-hal kecil yang dianggap normal: siswa takut berbicara di kelas, budaya saling mengejek, lingkungan belajar yang kaku, guru yang terlalu menekankan hukuman, hingga minimnya ruang dialog antara sekolah dan peserta didik. Jika berlangsung terus-menerus, situasi seperti ini dapat membentuk iklim pendidikan yang tidak sehat.

Baca Juga:  Manfaat Blue Java Banana Bagi Kesehatan

Padahal lingkungan sekolah yang baik memiliki pengaruh nyata terhadap kualitas belajar siswa. Penelitian menunjukkan bahwa sekolah dengan budaya positif cenderung memiliki tingkat kehadiran siswa lebih tinggi, konflik lebih rendah, dan keterlibatan belajar yang lebih baik.

Bahkan studi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menemukan bahwa siswa yang merasa nyaman di sekolah memiliki kemungkinan lebih besar mencapai performa akademik optimal dibanding mereka yang mengalami tekanan sosial di lingkungan pendidikan.

Budaya sekolah yang sehat juga berhubungan erat dengan pembentukan karakter. Ketika siswa terbiasa melihat budaya saling menghargai, disiplin yang manusiawi, dan kepedulian terhadap lingkungan, nilai-nilai itu akan terbawa hingga kehidupan sosial mereka di luar sekolah. Sebaliknya, jika sekolah dipenuhi ketakutan, tekanan, atau diskriminasi, peserta didik dapat tumbuh dengan beban emosional yang memengaruhi rasa percaya dirinya.

Selain lingkungan sosial, lingkungan fisik sekolah juga memengaruhi proses belajar. Data UNICEF menyebutkan bahwa akses terhadap sanitasi yang baik, ruang belajar bersih, sirkulasi udara memadai, dan lingkungan hijau dapat meningkatkan kenyamanan belajar siswa. Namun, realitasnya, masih banyak sekolah yang menghadapi persoalan fasilitas dasar, mulai dari toilet yang tidak layak hingga minimnya ruang terbuka untuk aktivitas siswa.

Guru dan pimpinan sekolah memiliki peran besar dalam membangun budaya tersebut. Cara guru berkomunikasi, cara sekolah menyelesaikan konflik, hingga bagaimana siswa dilibatkan dalam pengambilan keputusan kecil di sekolah dapat membentuk rasa memiliki terhadap lingkungan pendidikan. Budaya positif tidak lahir dari slogan di dinding sekolah, tetapi dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang menghasilkan lulusan yang pintar secara akademik. Pendidikan juga tentang menciptakan manusia yang mampu hidup bersama, menghargai lingkungan, dan memiliki karakter sosial yang baik. Karena itu, membangun budaya dan lingkungan sekolah yang sehat bukan pekerjaan tambahan dalam pendidikan, melainkan bagian penting dari masa depan pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Euis Nurlaela, S.Pd. (Mahasiswa Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Pamulang)

Sumber Gambar: AI Generate

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *