Press ESC to close

Dihadiri Menag RI, UIN Jusila Kukuhkan Lima Profesor dan Resmikan Lab Terintegritas

Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila) menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka pengukuhan lima guru besar, pelantikan Pengurus Pusat Kajian Pesantren, dan peresmian Laboratorium Terintegrasi. Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Academic Center (GAC), Kampus II, UIN Jusila, Sabtu (8/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Nasaruddin Umar dan rombongan, serta Rektor UIN Jusila Ida Umami beserta jajarannya. Turut hadir Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, serta tamu undangan lainnya.

Acara diawali dengan pembukaan Sidang Senat Terbuka oleh Ketua Senat UIN Jusila, Mukhtar Hadi. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) oleh Wakil Rektor (Warek) I Dedi Irwansyah, yang menetapkan pengukuhan lima guru besar UIN Jusila.

Adapun lima guru besar tersebut, yakni Prof. Dr. Siti Zulaikha, S.Ag., M.H. dengan kepakaran Ilmu Hukum Perkawinan dan Prof. Dr. Dri Santoso, M.H. dengan kepakaran Pemikiran Hukum Keluarga Islam.

Disusul Prof. Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. dengan kepakaran Manajemen Lembaga Pendidikan Islam; Prof. Husnul Fatarib, Ph.D. dengan kepakaran Ushul Fikih.

Selanjutnya, Prof. Dr. Imam Mustofa, M.H. dengan kepakaran Hukum Ekonomi Syariah Kontemporer. Pengukuhan tersebut ditandai dengan pemukulan beduk sebagai tanda sahnya pengukuhan.

blank

Menag RI Apresiasi UIN Jusila, Rektor Titip Harapan Pembangunan Gedung Ma’had

Menag RI Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasinya atas pengukuhan lima guru besar yang dinilai akan berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan kampus ke depan.

“Tentu ada kebahagiaan hari ini, atas lima orang luar biasa yang kita saksikan di atas panggung tadi, karena mereka sebagai pendorong dalam ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran UIN Jusila yang tidak hanya berfokus pada bidang akademik, tetapi turut memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“UIN tidak hanya menciptakan ilmuwan sebagai lembaga akademis yang punya persyaratan tertentu, tetapi UIN juga diharapkan menjadi lembaga kemasyarakatan,” tambahnya.

Sementara itu, Rektor UIN Jusila Ida Umami dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada Menag Nasaruddin Umar atas kehadirannya di UIN Jusila.

“Bapak, Ibu sekalian, tentu alhamdulillah keberkahan yang luar biasa meliputi kita semua, seluruh keluarga besar UIN Jusila, dan juga hari ini Bapak Menteri Agama akhirnya datang mengunjungi kita,” ujarnya.

Sebelum menutup sambutannya, Rektor UIN Jusila tersebut turut meminta bantuan kepada pihak Menag dan Wali Kota Metro guna mewujudkan cita-cita kampus dalam membangun Ma’had Al-Jami’ah di UIN Jusila yang telah diwacanakan sejak silam.

“Bapak Menteri dan Wali Kota, kami mohon bantuan untuk pendirian Ma’had Al-Jami’ah,” tutupnya.

Sementara itu, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso menyampaikan ucapan selamat datang kepada Menag RI Nasaruddin Umar di UIN Jusila. Ia menyebut kedatangan Menag menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Baca Juga:  UIN Jusila Gelar Pemotongan Hewan Kurban, Tingkatkan Silaturahmi dan Sosialiasi Kampus

“Atas nama civitas academica UIN Jusila, saya menyampaikan selamat datang, khususnya kepada Bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Nasaruddin Umar di UIN Jusila,” ujarnya.

Bambang juga memberikan apresiasi atas pengukuhan lima guru besar UIN Jusila. Menurutnya, pengukuhan tersebut menjadi capaian penting bagi civitas academica dan perkembangan UIN Jusila.

“Saya juga menyampaikan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para akademisi yang hari ini dikukuhkan sebagai guru besar,” tambahnya.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan peluncuran UIN Jusila dan peresmian Gedung Laboratorium Terintegrasi yang ditandai dengan pembunyian sirene dan penandatanganan prasasti.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelantikan 23 Pengurus Pusat Kajian Pesantren dan ditutup dengan pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Menag RI Nasaruddin Umar.

blank

Bukan Menara Gading: Refleksi dan Komitmen Pengabdian Guru Besar Baru

Salah satu guru besar yang dikukuhkan, Husnul Fatarib, dengan kepakaran Ushul Fikih, menyebut pengukuhan tersebut sebagai momentum baru dalam perjalanan akademiknya. Ia menilai gelar guru besar bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan awal untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Ini adalah lembaran baru untuk memulai karier yang lebih menantang lagi, yang lebih bermanfaat lagi, yang lebih berguna lagi bagi bangsa, agama, dan negara,” ungkapnya.

Husnul mengatakan perjalanan menuju Guru Besar telah dilaluinya dalam waktu panjang. Ia meraih gelar doktor pada 2006 dan baru memperoleh jabatan fungsional guru besar pada 2026.

“Setelah 20 tahun menyandang gelar doktor, pada hari ini bisa alhamdulillah dikaruniai gelar jabatan fungsional Guru Besar di lingkungan Kementerian Agama,” tuturnya.

Ia berharap keilmuannya setelah dikukuhkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Guru Besar itu tidaklah kemudian menjadi menara gading di kampus dengan gagahnya, tetapi kemudian harus lebih bermanfaat, lebih berdaya guna, dan dirasakan oleh masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, guru besar lainnya, Imam Mustofa, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari guru besar yang dikukuhkan langsung oleh Menag Nasaruddin Umar. Ia menyebut pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi.

“Alhamdulillah luar biasa, mungkin kami angkatan satu-satunya periode ini yang dikukuhkan oleh Menteri Agama langsung. Biasanya dikukuhkan oleh Rektor,” ujarnya.

Menurut Imam, jabatan Guru Besar bukan merupakan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memberikan manfaat yang lebih luas, khususnya bagi mahasiswa.

“Saya mempunyai komitmen untuk tidak egois. Guru Besar itu bukan capaian tertinggi dalam konteks sosial, tetapi sekadar wasilah untuk bisa lebih bermanfaat, khususnya bagi para mahasiswa,” tambahnya.

Imam juga berpesan kepada mahasiswa untuk memperbanyak membaca sebagai bagian dari pengembangan wawasan dan kemampuan berpikir.

“Banyaklah membaca, bukan hanya banyak menonton, karena khazanah berpikir kita akan berbeda. Buku dan bahan bacaan belum bisa digantikan dengan yang lain,” pungkasnya.

‎Reporter: Alfya/Humai

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *