Press ESC to close

Kolaborasi Komunitas Teater “Berembuk Rasa Jilid 2” Hidupkan Ekosistem Seni di Kota Metro‎

Sejumlah komunitas seni di sekitar Kota Metro menggelar pertunjukan teater bertajuk “Berembuk Rasa Jilid 2”, menampilkan naskah teater Malam Jahanan dan Senja dengan Dua Kelelawar. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 17–18 April 2026, di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro.

Acara tersebut bekerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya Sanggar Satu Kata, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Mahasiswa Pencinta Seni (Impas) Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila), UKM Impasi Universitas Maarif Lampung (UMALA), Keluarga Cakau, serta Sanggar Kaliptra. Dibuka untuk umum, pertunjukan tersebut juga dihadiri oleh pengurus Dewan Kesenian Metro (DKM) Arzila Hernanda.

‎Pementasan tersebut diadakan tidak hanya untuk sarana hiburan, tetapi juga untuk menyampaikan pesan edukatif mengenai dinamika sosial yang terjadi di lingkungan sekitar.

‎Selama dua hari pelaksanaan, rangkaian pertunjukan menampilkan karya-karya teater yang menarik. Pada hari pertama dipentaskan naskah Malam Jahanam karya Mottinggo Boesje pukul 19.30–21.30 WIB. Sementara itu, hari kedua menghadirkan pementasan Senja dengan Dua Kelelawar karya Kirdjomulyo pada pukul 19.30 WIB.

‎Dalam sambutannya, Arzila Hernanda menyampaikan dukungannya terhadap perkembangan seni teater di Kota Metro. Ia menilai aktivitas teater mulai menunjukkan kemajuan yang positif dan perlu terus didukung bersama.

“Teman-teman teater Kota Metro mulai bergeliat, dan kita ingin bersama-sama membersamai mereka agar kegiatan yang menurut saya menjadi kebanggaan Kota Metro ini terus kita dukung dan disupport,” ujarnya.

‎Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga jati diri bangsa melalui kebudayaan. Menurutnya, keberagaman budaya Indonesia merupakan kekuatan besar yang harus terus dilestarikan.

Baca Juga:  Memahami Hakekat Cinta Yang Sesungguhnya

“Kita sebagai bangsa Indonesia harus berkepribadian dalam kebudayaan, karena kita adalah bangsa yang besar dan memiliki begitu banyak ragam budaya,” tuturnya.

‎Imam Susanto selaku sutradara naskah Malam Jahanan juga memberikan apresiasi terhadap kekompakan tim hingga kualitas pementasan yang dinilai keren dan sukses.

“Banyak tanggapan positif yang diberikan ya, dengan jumlah tim produksi sekitar 50 orang, pertunjukan ini dinilai berhasil berkat kerja sama yang solid dan konsep yang terencana dengan baik,” ungkapnya.

‎Ia juga berharap agar acara tersebut lebih sukses dan ramai dikedepannya. “Saya harap ya, akan hidup terus acara ini, dan semoga akan ada jilid-jilid selanjutnya,” harapnya.

‎Apresiasi juga datang dari salah satu penonton, Muhammad Abdillah Rasyid. Ia mengungkapkan apresiasinya terhadap jalannya pertunjukan yang dinilai sangat meriah dan menghibur. “Pentas Berembuk Rasa kali ini sangat pecah dan sangat wow sekali,” ungkapnya.

‎Ia juga menyampaikan harapannya agar perkembangan seni teater di Kota Metro semakin maju dan terus berkembang ke depannya. “Teater di Kota Metro bisa berkembang dan maju terus,” tutupnya.

‎Reporter: Anggi/Rafi

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *