Press ESC to close

Menyingkap Misteri Déjà Vu: Mengapa Kita Merasa Pernah Mengalami Masa Kini?

Pernahkah Anda merasa seolah-olah pernah mengalami suatu kejadian, padahal situasi tersebut baru pertama kali terjadi? Perasaan ini terkadang muncul saat berada di tempat baru atau mengalami situasi yang terasa familier. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah Deja Vu.

‎Deja Vu merupakan fenomena psikologis dan neurologis ketika seseorang merasa familier dengan situasi baru, seolah-olah pernah mengalaminya pada masa lalu. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti “sudah pernah dilihat”.

‎Meskipun terasa aneh dan sering dikaitkan dengan hal-hal mistis atau dimensi alternatif, deja vu merupakan fenomena yang normal dan berkaitan dengan proses kerja otak. Fenomena ini umumnya berlangsung singkat, sekitar 10 hingga 30 detik, dan diperkirakan pernah dialami oleh 70 hingga 97% populasi dunia.

‎Teori Penyebab Déjà Vu dari Sisi Ilmiah

‎Hingga saat ini, para ilmuwan dan psikolog terus meneliti mekanisme pasti deja vu. Beberapa teori utama yang diakui secara medis meliputi:

  1. ‎Persepsi yang Terpecah (Split Perception)

Ketika perhatian teralihkan selama sepersekian detik saat melihat sesuatu, otak sebenarnya telah memproses informasi tersebut tanpa disadari. Saat kembali berfokus pada objek atau situasi yang sama, otak dapat mengenalinya sebagai ingatan lama, padahal informasi tersebut baru saja diterima beberapa milidetik sebelumnya.

  1. Kekeliruan Penyimpanan Memori (Memory Recall)

Teori ini dipopulerkan oleh psikolog Anne Cleary dari University of Colorado. Deja vu bisa terjadi karena tata letak ruang, objek, suasana, atau percakapan saat ini memiliki kemiripan spasial dengan pengalaman masa lalu yang sudah kita lupakan (misalnya memori masa kecil). Otak mengenali kemiripan polanya, namun gagal memanggil ingatan aslinya secara utuh.

  1. Keterlambatan Jalur Pemrosesan (Dual Processing)

Otak memproses informasi melalui jalur sadar dan tidak sadar. Ada sedikit gangguan sinkronisasi atau penundaan sinyal di antara kedua jalur ini, otak akan menerima informasi yang sama sebagai dua sinyal berbeda, memicu ilusi bahwa peristiwa saat ini adalah pengulangan masa lalu.

  1. Malfungsi Sirkuit Otak Jangka Pendek
Baca Juga:  Generasi 'Skip': Mengapa Kita Malas Membaca, tetapi Mahir Berkomentar?

Secara normal, informasi baru disimpan ke memori jangka pendek sebelum beralih ke memori jangka panjang. Ketika seseorang sedang kelelahan, stres, atau kurang tidur, sistem otak bisa mengalami malfungsi kecil di mana memori baru langsung dialihkan ke folder memori jangka panjang.

‎Siapa yang Paling Sering Mengalaminya?

‎Deja Vu dapat dialami oleh siapa saja, tetapi penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini lebih sering dialami oleh kelompok usia muda serta individu dengan kondisi tertentu.

‎• Usia muda (15–25 tahun): Otak pada usia ini sangat aktif dan terus memproses banyak pengalaman baru.

‎• Orang dengan mobilitas tinggi: Mereka yang sering bepergian atau traveling lebih sering menemui lingkungan baru yang memicu kemiripan memori.

‎• Kondisi fisik tertentu: Orang yang sedang mengalami stres berat, kelelahan fisik, atau insomnia.

‎• Faktor personal: Individu berpendidikan tinggi, berpikiran terbuka, atau sering mengalami lucid dream.

‎Ternyata Deja Vu Bisa Jadi Tanda Bahaya!

‎‎Meskipun umumnya tidak berbahaya, deja vu yang terjadi berulang kali atau disertai gejala lain perlu diwaspadai. Fenomena ini terkadang berkaitan dengan gangguan saraf, seperti epilepsi lobus temporal.

Segera konsultasikan kepada dokter jika deja vu disertai kebingungan, penurunan kesadaran, gangguan ingatan, atau gerakan tubuh yang tidak terkendali.

Penulis: Eka Rinawati

‎‎Sumber Rujukan: https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/apa-itu-dejavu\

https://hellosehat.com/mental/apa-itu-dejavu-kenapa-bisa-terjadi

https://www.halodoc.com/artikel/ini-3-penyebab-seseorang-mengalami-dejavu-dari-sisi-psikologi

https://www.alodokter.com/menjelaskan-fenomena-dejavu-secara-logis

‎Sumber Gambar: magnific.com

‎

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *