Press ESC to close

Generasi ‘Skip’: Mengapa Kita Malas Membaca, tetapi Mahir Berkomentar?

Di era media sosial, informasi datang begitu cepat dan mudah. Setiap hari kita selalu disuguhi berbagai berita, potongan video, serta opini tentang berbagai isu ataupun konflik hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan itu, masalah muncul ketika banyak orang berkomentar tanpa membaca informasi secara utuh. Judul dibaca sekilas, isi dilewati, tetapi opini sudah terlebih dahulu dibagikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah kemudahan akses informasi yang kita terima, justru muncul tantangan baru dalam budaya literasi, dengan lahirnya generasi yang terbiasa “skip” membaca, tetapi sangat aktif dalam berkomentar.

Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui kemajuan teknologi digital yang sangat pesat, khususnya di berbagai platform media sosial yang menampilkan informasi secara cepat dan terus-menerus. Kondisi ini melibatkan hampir semua pengguna internet, terutama generasi muda yang merupakan kelompok paling aktif dalam mengonsumsi konten digital. Kebiasaan ini makin terlihat kuat dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya pengguna media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu faktornya adalah cara kerja algoritma media sosial yang lebih memprioritaskan konten singkat, menarik, dan mudah viral, dibandingkan dengan tulisan panjang yang butuh waktu untuk dipahami. Akibatnya, banyak pengguna menjadi terbiasa membaca secara sekilas, bahkan hanya melihat judul sebelum berpindah ke konten lainnya. Kondisi ini juga didukung oleh cara kerja media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar tanpa henti.

Dalam situasi seperti ini, cara seseorang membaca informasi tidak selalu sama. Ada sebagian dari kita hanya membaca sekilas untuk menangkap gambaran umum, ada pula yang membaca secara cepat untuk menemukan informasi tertentu, ada pula yang membaca secara mendalam untuk memahami isi secara utuh.

Namun, dalam situasi seperti ini, membaca secara mendalam sering kali menguras energi, sehingga orang lebih memilih mendapatkan informasi secara cepat meskipun pemahaman mereka terbatas. Tanpa disadari, kebiasaan ini mengubah cara masyarakat dalam memahami informasi dari proses memahami menjadi hanya melihat dan bereaksi.

Survei yang dikutip dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan aktivitas konsumsi media digital. Selain itu, laporan We Are Social pada tahun 2023 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam per hari di media sosial, yang sebagian besar digunakan untuk melihat konten singkat, bukan membaca secara mendalam. Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan antara akses informasi yang tinggi dan rendahnya pemahaman.

Dampaknya dapat terlihat ketika sebuah berita menjadi viral hanya karena judul yang provokatif. Banyak orang langsung membagikan atau mengomentari tanpa membaca isinya. Akibatnya, diskusi di ruang digital sering dipenuhi kesalahpahaman. Situasi ini menjadi lebih beresiko ketika berhubungan dengan isu sensitif seperti konflik sosial, politik, atau agama. Potongan video pendek tanpa konteks yang jelas dapat memicu perdebatan panjang, padahal informasi yang beredar belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Baca Juga:  FLP Berikan Solusi Penerbitan Karya Sastra

Kecenderungan berkomentar tanpa membaca secara utuh ini tidak hanya terjadi di ruang digital secara umum, tetapi juga mulai terlihat dalam lingkungan yang seharusnya dekat dengan budaya membaca dan berpikir kritis, yaitu di kalangan mahasiswa. Kondisi ini juga tampak ketika sebuah isu akademik atau sosial dibagikan melalui media sosial kampus. Banyak mahasiswa langsung memberikan komentar atau membagikan ulang informasi tersebut hanya berdasarkan judul atau potongan gambar saja, tanpa membacanya terlebih dahulu yang menjadi sumbernya.

Dalam beberapa diskusi daring, tidak jarang muncul perdebatan panjang yang sebenarnya berangkat dari kesalahpahaman karena sebagian peserta diskusi belum membaca isi tulisan secara lengkap. Hal ini menunjukkan bahwa kemudahan akses informasi tidak selalu diikuti dengan kebiasaan membaca secara mendalam, bahkan di lingkungan yang seharusnya menjunjung tinggi budaya akademik.

Jika kebiasaan ini terus berlangsung, maka paradigma diskusi di kalangan mahasiswa berisiko bergeser dari yang seharusnya berbasis pada pemahaman dan argumentasi ilmiah menjadi sekadar tanggapan cepat tanpa dasar pembacaan yang utuh.

Jika kebiasan “skip” membaca terus dibiarkan, maka ruang digital berpotensi dipenuhi opini dangkal dan menyebabkan perdebatan yang tidak produktif. Informasi yang seharusnya memperluas wawasan justru berubah menjadi kesalahpahaman. Karena itu, penguatan literasi digital menjadi hal yang sangat penting. Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membaca informasi secara utuh, memeriksa  sumber, dan memahami konteks sebelum memberi tanggapan.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya menghapus kebiasaan membaca kita secara utuh. Kemudahan akses informasi justru menuntut kemampuan literasi yang lebih baik. Membaca secara cermat, memahami konteks, dan berpikir sebelum berkomentar merupakan tanggung jawab kita sebagai pengguna ruang digital. Fenomena “Generasi Skip” mengingatkan bahwa kecepatan tidak selalu sejalan dengan pemahaman. Oleh karena itu, menghidupkan kembali budaya membaca sangat penting agar literasi tidak hanya sebatas mengakses informasi, tetapi juga memahaminya secara kritis dan bijak.

Kontributor: Rara Khoirun Nisa

Sumber Gambar: freepik.com

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *