Prof Akla: Bahasa Lahir dari Ruang Hampa

Menyandang gelar profesor merupakan suatu penghargaan tertinggi bagi seorang akademisi, tak terkecuali siapa pun itu. Kamis (18/04/2024) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro secara resmi menggelar Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar di Bidang Pendidikan Bahasa Arab dan juga Hukum Keluarga Islam.
Menyandang gelar guru besar atau profesor di bidang Pendidikan Bahasa Arab membuat Prof. Akla yang juga merupakan Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan di IAIN Metro Lampung merasa bangga dan bersyukur.
Dalam gelaran sidang senat yang telah berlangsung Akla menyampaikan orasi ilmiahnya dengan judul Pembelajaran Bahasa Arab Transformatif (Mendesain Pembelajaran Berbasis Teknologi Digital). Dalam orasinya tersebut ia mengawali dengan pentingnya sebuah bahasa dalam kehidupan manusia. Mulai dari sisi arti hingga tujuan adanya bahasa dalam komunikasi.
[irp]
“Betapa bahasa memiliki nilai yang fundamental dalam kehidupan dan merupakan karunia terindah bagi umat manusia dari Allah Swt.,” ungkap Akla. Ia juga menegaskan bahwa dari banyaknya bahasa yang ada di dunia ini, bahasa Arab-lah yang menjadi bahasa yang memiliki keistimewaan, di mana bahasa Arab hadir sebagai bahasa penyampai pesan Ilahiyah (ketuhanan., red.) dan ajaran mengenai samawi yang tertulis dalam hadis.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan perkembangan bahasa Arab yang terus berkembang mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT) bahkan lembaga nonformal seperti pesantren. Namun, ia menyayangkan persoalan yang terjadi di lingkungan usia dini/anak-anak. Persoalan ini berkaitan dengan rasa bosan, motivasi, rasa malas, dan pembelajaran yang tidak didesain dengan nuansa yang menyenangkan.
“Desain pembelajaran yang tidak dirancang dengan baik menjadi penyebab utama munculnya berbagai persoalan belajar bahasa Arab pada anak. Ini terbukti dengan adanya penelitian yang mengungkapkan hal demikian,” terangnya sembari menjelaskan mengenai klasifikasi masalah belajar bahas Arab ke dalam dua kelompok.
[irp]
Kelompok pertama adalah bahasa itu sendiri, artinya hal-hal yang berkaitan dengan kebahasaan seperti bunyi bahasa. Terlebih bahasa Arab juga sulit padanannya juga bahasa yang sangat fleksibel dan unit dengan cara bervariasi (at-tasfir al-isytiqaqy) ataupun dengan cara infleksi (at-tsfir al-i’raby), “Dengan dua cara tersebutlah bahasa Arab memiliki variasi kosa kata yang beragam.”
Menurut Akla, meski bahasa Arab awalnya hanya bergumam di sekitar pesantren dan surau di Indonesia untuk kepentingan ibadah saja, namun saat ini bahasa digunakan dalam kepentingan politik, ekonomi, pendidikan serta kebudayaan, “Betapa pun bahasa Arab sudah diajarkan sejak lama, permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran juga masih saja ada,” tegasnya, “Problematika ini terutama terkait dengan karakteristik bahasa Arab yang sangat berbeda dengan bahasa Indonesia,” imbuhnya.
Lebih lanjut, pembelajaran Bahasa Arab selama ini sering kali berpusat pada guru, di mana siswa hanya menjadi objek pasif yang hanya menerima apa yang diajarkan oleh guru. Kondisi ini berdampak pada kurangnya aktivitas dan kreativitas siswa dalam belajar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan transformasi dalam pembelajaran Bahasa Arab, “Pembelajaran Bahasa Arab selama ini sering kali berpusat pada guru, di mana siswa hanya menjadi objek pasif yang hanya menerima apa yang diajarkan oleh guru,” tuturnya.
[irp]
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran transformatif berbasis teknologi digital.” Pembelajaran transformatif berfokus pada perubahan cara pandang, pola berpikir, dan nilai-nilai pada dimensi kognitif, emosional, dan sosial. Melalui pembelajaran transformatif, siswa diposisikan sebagai subjek belajar yang aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran, “Pembelajaran transformatif berfokus pada perubahan cara pandang, pola berpikir, dan nilai-nilai pada dimensi kognitif, emosional, dan sosial.”
Dalam mendesain pembelajaran Bahasa Arab transformatif berbasis teknologi digital, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan, yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) penetapan tujuan pembelajaran, (3) pemilihan dan pengurutan konten pembelajaran, (4) perancangan format pembelajaran, (5) penyertaan prosedur penilaian, dan (6) evaluasi.
“Dengan menerapkan pembelajaran Bahasa Arab transformatif berbasis teknologi digital, diharapkan dapat menciptakan pola interaksi yang lebih humanis antara guru dan siswa, serta dapat menumbuhkan rasa sosial, kemandirian, dan kreativitas belajar pada siswa. Sehingga, siswa dapat memiliki kompetensi kebahasaan yang baik dan dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Akla di akhir orasi ilmiahnya.
[irp]
Setelah menyampaikan orasinya, Akla kemudian memberikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan kepadanya.
(Reporter/Irsyad Azis)