Press ESC to close

Toxic Positivity, Ketika Harus Selalu Berpikir Positif

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan positif dari teman saat sedang bercerita keluh kesah terkait tugas, pekerjaan, atau hubungan keluarga.

Mereka biasanya merespons dengan kalimat seperti “Sabar ya, badai pasti berlalu,” atau “Tenang, pasti ada jalan keluarnya.”

Meski terdengar sebagai bentuk dukungan, kata-kata tersebut belum tentu membantu jika tidak sesuai dengan situasi yang sedang dihadapi.

Alih-alih memberikan ketenangan, respons seperti itu justru bisa menambah beban pikiran dan membuat seseorang merasa makin terpuruk. Fenomena inilah yang dikenal sebagai toxic positivity.

Apa Itu Toxic Positivity?

Toxic Positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya untuk selalu berpikir atau bersikap positif secara berlebihan, sehingga perasaan atau emosi negatif sering diabaikan atau disangkal.

Padahal, emosi negatif seperti sedih, marah, dan kecewa merupakan bagian yang wajar dialami dalam kehidupan manusia.

Penyangkalan emosi negatif yang terus dilakukan dalam jangka panjang bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres berat, cemas atau sedih yang berkepanjangan, gangguan tidur, depresi, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Penyebab Toxic Positivity

Ada beberapa alasan mengapa toxic positivity terjadi. Pertama, seseorang mungkin kurang memahami atau memperhatikan kondisi dirinya sendiri maupun orang lain.

Misalnya, ketika seseorang menceritakan kegagalannya, ia langsung diberi semangat tanpa ada upaya untuk memahami perasaan lelah, tertekan, atau keraguan yang sedang dialaminya.

Kedua, toxic positivity sering muncul karena ungkapan positif dianggap lebih nyaman didengar dan lebih sesuai dengan norma sosial.

Hal ini banyak ditemukan di media sosial, di mana komentar positif lebih sering diberikan untuk menghindari konflik atau kesan negatif.

Ketiga, seseorang mungkin melakukan toxic positivity karena tidak memiliki solusi yang tepat selain memberikan kata-kata penyemangat.

Akibatnya, orang yang sedang mengalami kesulitan hanya menerima ucapan penghiburan, padahal mereka mungkin membutuhkan empati, dukungan, atau bantuan yang lebih nyata.

Mengenali Ciri-ciri Toxic Positivity

Toxic positivity biasanya muncul melalui ucapan seseorang yang terkesan positif, tetapi memiliki emosi negatif. Ada beberapa hal yang menandakan seseorang bersikap toxic positivity, antara lain:

  1. Mengabaikan emosi negatif

Saat seseorang merasa sedih atau marah, toxic positivity mendorongnya untuk segera melupakan perasaan tersebut, misalnya dengan berkata, “Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja.”

  1. Memberikan nasihat yang meremehkan

Perasaan seseorang sering direspons dengan nasihat sederhana tanpa empati, seperti, “Yang penting tetap bersyukur.”

  1. Merasa bersalah karena emosi negatif

Seseorang dapat merasa malu atau bersalah saat sedih, marah, atau kecewa karena menganggap emosi tersebut sebagai kelemahan.

  1. Berkedok sikap optimis

Toxic positivity sering ditunjukkan melalui kalimat seperti, “Coba lihat sisi baiknya,” atau “Berpikirlah positif,” meskipun situasinya memang sulit.

Sering kali, kata-kata positif diucapkan dengan tujuan untuk menyemangati diri sendiri atau menunjukkan kepedulian kepada orang lain.

Namun, jika dilakukan secara berlebihan hingga mengabaikan perasaan sedih, kecewa, atau marah, hal tersebut dapat menjadi toxic positivity.

Padahal, emosi negatif juga merupakan bagian yang normal dari kehidupan dan perlu diterima dengan baik.

Baca Juga:  Asesmen Lapangan Prodi IPS, Upaya Peningkatan Mutu dan Peringkat Akreditasi

Selain itu, media sosial juga dapat mendorong munculnya toxic positivity. Banyak orang hanya membagikan sisi terbaik dari hidup mereka, sehingga orang lain mudah merasa hidupnya kurang baik jika dibandingkan.

Akibatnya, seseorang bisa merasa perlu menyembunyikan emosi negatif dan selalu terlihat bahagia, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Dampak Buruk Toxic Positivity

Meskipun memiliki maksud yang baik, toxic positifity juga mempengaruhi kesehatan mental, antara lain:

  1. Penekanan emosi yang sebenarnya

Menahan emosi negatif dalam jangka panjang dapat berdampak pada peningkatan stres, kecemasan, hingga risiko depresi. Oleh karena itu, emosi perlu dikenali dan dikelola dengan baik, bukan diabaikan.

  1. Penurunan empati

Ketika seseorang terus didorong untuk selalu berpikir positif, kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain dapat berkurang, sehingga empati tidak berkembang secara optimal.

  1. Gangguan dalam hubungan sosial

Toxic positivity dapat membuat seseorang merasa tidak didengar dan tidak dipahami, sehingga berpotensi menimbulkan jarak dalam hubungan dengan orang lain.

  1. Menghambat proses perkembangan diri

Emosi negatif sebenarnya memiliki fungsi penting sebagai bahan refleksi dan pembelajaran. Jika terus ditekan, seseorang akan kehilangan kesempatan untuk memahami pengalaman dan berkembang dari situasi yang dihadapi.blank

Cara Menghindari Toxic Positifity

Tips agar terhindar dati toxic positifity serta dampak buruknya agar tidak menjadi sumber toxic positifity bagi orang lain, kamu bisa mencoba tips berikut:

  1. Belajar untuk memahami bukan menghakimi

Perasaan negatif yang kamu atau orang lain rasakan bisa dipicu oleh berbagai hal, seperti stres pekerjaan, masalah keluarga atau keuangan, hingga kondisi kesehatan mental tertentu seperti gangguan suasana hati. Karena itu, penting untuk tidak langsung mengabaikannya.

Sebaiknya, cobalah untuk memahami perasaan tersebut dan mencari cara yang sehat untuk mengelolanya. Jika hal ini terjadi pada temanmu, berikan ruang agar ia bisa mengekspresikan emosinya dengan nyaman.

  1. Hindari membandingkan masalah

Sebaiknya kamu tidak membandingkan masalahmu dengan orang lain, karena setiap orang memiliki tantangan yang berbeda-beda.

Sesuatu yang terlihat mudah bagimu bisa jadi sangat sulit bagi orang lain, begitu juga sebaliknya. Daripada membandingkan diri, lebih baik fokus untuk memahami kondisi diri sendiri dan menenangkan pikiran agar emosi kembali stabil.

  1. Kurangi penggunaan media sosial

Kamu juga perlu bijak dalam menggunakan media sosial karena hal tersebut bisa memicu atau memperkuat toxic positivity.

Cobalah untuk mengurangi waktu scrolling dan menyaring akun yang sering memunculkan konten yang kurang sehat atau memicu emosi negatif.

Gunakan waktu yang ada untuk hal yang lebih bermanfaat, seperti menyelesaikan tugas, mengembangkan diri, melakukan hobi, atau beristirahat agar pikiran lebih tenang.

Setelah memahami toxic positivity, sebaiknya kamu mulai menghindari sikap tersebut agar tidak berdampak pada diri sendiri maupun orang lain. Jika suatu saat kamu merasa kesulitan mengelola emosi atau kondisi sudah mengganggu keseharian, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog.

Penulis: Mutia Turrohmah

Sumber Rujukan:

  1. https://www.halodoc.com/artikel/toxic-positivity-apa-itu-kenali-dampaknya
  2. https://www.chubb.com/id-id/articles/personal/alasan-anda-jangan-hanya-memandang-sesuatu-dari-sisi-positif-saja.html
  3. https://www.alodokter.com/mengenal-lebih-jauh-tentang-toxic-positivity

Sumber Foto: magnific.com

 

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *