Dorong Masyarakat Melek Digital, Kemenkominfo Gelar Webinar Nasional Literasi Digital

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI) bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, adakan Kegiatan Literasi Digital Nasional: Indonesia Makin Cakap Digital, bertemakan Melek Digital dengan Berliterasi, dilaksanakan via Zoom Meeting, Selasa (06/07).

 

Kegiatan ini menghadirkan Virginia Obed Nirmala, Influencer, Dewi Oktavia Fitriani, Jurnalis, dan Yuda Ekaristono, Content Creative. Terdapat sambutan Presiden RI Joko Widodo dalam sebuah video pendek.

 

“Kewajiban kita bersama untuk terus meminimalkan konten negatif, banjiri ruang digital dengan konten-konten positif. Internet harus mampu meningkatkan produktivitas masyarakat, dan insyaallah pada akhir 2022, 12.548 desa dan kelurahan akan terjangkau sinyal 4G,” ujar Joko Widodo, Presiden RI melalui video yang diputar.

 

Yuda Ekaristono, dalam materinya menyampaikan terkait tingkat kesopanan netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara. Data tersebut diperoleh dari Digital Civility Index (DCI).

 

“Terdapat peningkatan persebaran hoaks, penipuan, hingga ujaran kebencian. 47% dari 503 responden di Indonesia mengaku pernah terlibat di dalamnya, sementara 19% justru menjadi korban,” jelasnya.

 

Selanjutnya, Virginia Obed Nirmala, dalam materinya mengungkapkan, literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital dalam mencari, membuat, menggunakan, dan menyebarkan informasi.

 

Kemudian Dewi Oktavia Fitriani, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi di era globalisasi membuat pemanfaatan media sosial di Indonesia saat ini berkembang sangat luar biasa. Informasi begitu cepat beredar luas hanya dalam hitungan detik dan diakses oleh pengguna internet melalui media sosial.

 

Ratusan sampai ribuan informasi disebar setiap hari, bahkan pembaca belum sempat memahami materi informasi sudah menimbulkan reaksi yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. “Saat ini pemberitaan bohong atau hoaks menjadi fokus perhatian, terutama di media online,” pungkasnya.

 

Hoaks biasanya sengaja dibuat untuk mencapai tujuan tertentu dan mendapatkan keuntungan dari dampaknya. Informasi palsu akan lebih cepat viral jika dibagikan dan semakin banyak visitors pada situs tersebut maka pemiliknya akan mengantongi penghasilan berupa uang. Trafik visitors yang besar juga akan meningkatkan kepopuleran situs tersebut.

 

“Dalam beberapa kasus, hoaks juga digunakan sebagai media untuk adu domba, menyebar fitnah, mencemarkan nama baik, membuat kepanikan, serta menjatuhkan orang atau golongan tertentu,” ucapnya.

 

(Reporter/Novia)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0