Pentingnya Keterampilan Berbahasa Bagi Mahasiswa

Pentingnya berbahasa bagi mahasiswa

Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/-Jz9cyq0R4xA/VT42xFxwYsI/AAAAAAAAAE0/7lc7b1uT4eA/s1600/girl-writing-stars.jpg

Oleh: Ririn Erviana, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Semester V IAIN Metro

Bagi mahasiswa keterampilan berbahasa merupakan sesuatu yang harus ada bahkan jika belum ada harus ditanamkan. Keterampilan berbahasa sering kita kenal dengan menulis, membaca, dan berbicara di depan khalayak ramai (public speaking). Karena dalam menjalani kehidupan perguruan tinggi mahasiswa pasti tidak lepas dari menulis karya ilmiah dan tugas perkuliahan yang bersangkut-paut dengan kepenulisan.

Salah satu hal yang menandakan integritas suatu perguruan tinggi adalah berkembangnya penelitian dan kepenulisan pada masyarakat akademiknya. Sehingga pembelajaran yang ada bukan lagi transfer of knowledge tetapi sudah menjadi creative of knowledge. Namun, hal itu sepertinya belum sesuai dengan kenyataan yang ada, bahkan di banyak perguruan tinggi para mahasiswa masih bingung dalam menyusun karya ilmiah, artikel, dan opini.

Dengan begitu banyak syarat dan sifat yang harus dipenuhi dalam membuat karya ilmiah, ternyata membuat minat mahasiswa dalam menulis karya ilmiah sangatlah kecil. Beberapa kendala yang muncul dalam kegiatan pembelajaran akhirnya membuat mahasiswa maupun pendidik tidak produktif dalam hal menulis. Ketidakproduktifan menulis mahasiswa, diakibatkan karena seolah kegiatan menulis ilmiah menjadi beban yang begitu sulit. Terlihat fakta lapangan yaitu;(1) Rendahnya motivasi mahasiswa dalam mengikuti lomba karya ilmiah dan workshop karya ilmiah, (2) Menulis karya ilmiah hanya saat diberi tugas oleh dosen, (3) Mahasiswa cenderung menyukai tugas diskusi daripada menulis karya ilmiah, (4) Mahasiswa lebih suka menyampaikan gagasannya melalui lisan (public speaking) daripada menuangkannya dalam bentuk tulisan, (5) banyak mahasiswa memiliki minat baca, namun tidak memiliki minat menulis.

Budaya copy paste rasanya sudah mengakar kuat dalam pendirian sebagian mahasiswa. Bahkan mereka berusaha dengan keras supaya kegiatan copy paste tidak bisa dideteksi oleh dosen. Atau yang lebih buruk lagi mengandalkan ghostwriter seperti menyuruh teman untuk membuatkan makalah, artikel, opini, bahkan jurnal. Bahkan yang lebih parah adalah mengumpulkan makalah hasil dari pekerjaan mas-mas photocopy-an. Ada beberapa yang lumayan rajin pergi ke perpustakaan meminjam buku kemudian menyusun makalah, namun tidak dianalisis. Hanya memindahkan materi dari buku, kemudian mengemasnya dalam makalah, dan mendaku karyanya.

Bagaimana bisa mewujudkan gagasan melalui tulisan jika alergi dengan membaca? Bagaimana bisa mengemukakan pendapat di depan umum jika datang ke forum diskusi saja malas? Karena indikator seorang yang berpendidikan adalah perkataan dan gagasan yang ia tuangkan melalui pena. Itu semua akan terlihat saat mahasiswa mulai terjun ke masyarakat. Sudah tidak bisa lagi bermanuver copy paste atau mengandalkan ghostwritter.

Banyak dari mahasiswa yang mengandalkan cara praktis mengerjakan tugas kuliahnya. Terlebih di zaman yang serba sosmed seperti sekarang ini. Membaca buku bagi mahasiswa bukan lagi pilihan tepat mengisi senggang waktu. Sebab membuka sosmed lebih menyenangkan dan lebih mengasyikkan. Barangkali ada beberapa orang yang kurang memiliki kompetensi dalam bidang kepenulisan. Tapi itu bukan tidak mungkin bisa menulis. Menulis bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Seperti menulis diary, puisi, atau cerpen tentang kejadian sehari-hari. Dengan terbiasa menulis hal-hal sederhana maka kita akan tertarik untuk menulis yang lebih menantang misalnya lomba cerpen, puisi atau opini.

Kecintaan menulis biasanya berawal dari hal-hal yang sederhana kemudian merambat menjadi karya yang besar karena melihat penulis yang lebih bagus karyanya. “Wahh dia ikut lomba cerpen dan menang”, “Wah opini Si A masuk koran Lampung Post”, itu adalah bentuk ungkapan kecil ketika termotivasi menulis. Sebagai Mahasiswa mari tanamkan keterampilan berbahasa. Salam Mahasiswa.