Polemik AD ART dan Peraturan Ormawa, Akibatkan Kongres Ormawa Ricuh

Setelah Penjaringan Bakal Calon pada 4 Januari lalu, dilanjutkan dengan Kongres Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Senat Mahasiswa Institut (Sema-I) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (Dema-I) selama 2 hari, 5 dan 6 Januari.

Hari pertama kongres berujung ricuh, diduga panitia tidak transparan kepada peserta, sehingga kongres ditunda dan dilanjutkan keesokan harinya (Senin 6 Januari,. red). Menurut keterangan Angel, salah satu peserta peninjau, mengklaim banyaknya pelanggaran saat Musyawarah Organisasi Mahasiswa Institut (MOM-I) bebarapa hari lalu (28 Desember 2019,. red) dan ketika pemilihan Sema-I dan Dema-I kali ini.

“Dari segi pelaksanaan MOM-I kemarin itu (28 Desember 2019,. red) sudah melanggar AD ART dan peraturan Ormawa. Seharusnya MOM-I dilaksanakan paling cepat 3 bulan dan paling lambat 2 bulan sebelum masa jabatan berakhir. Namun, sekarang yang dilakukan ketika SK kepengurusan sudah habis, pada saat SK sudah habis, utusan penuh dan peninjau itu seharusnya tidak berlaku lagi,” terang Angel pada Selasa 7 Januari lalu.

“Mekanismenya menurut AD ART pada pemilihan Dema, hanya HMJ yang memilih dan Sema-I tidak berhak. Namun, pada saat MOM-I mereka mengatakan bahwa yang memilih Dema-I adalah HMJ dan Sema-I, otomatis pada saat MOM-I sudah melanggar AD ART juga,” tambahnya.

Angel dan pihaknya mengklaim pada kongres hari Minggu banyak melakukan manipulasi data dan kecurangan. Menurutnya, saat sidang berlangsung, ada peserta penuh (utusan dari HMJ,. red) maupun peserta peninjau (Ormawa selain HMJ,. red) yang bukan dari utusan aslinya. Tak hanya itu, saat pemilihan presidium sidang juga mengambil keputusan secara sepihak, tanpa adanya persetujuan dari peserta penuh maupun peninjau.

“Kemarin Senin (6 Januari,. red), kami mau menindaklanjuti tentang sidang hari Minggu, tapi ternyata ruangan yang tadinya di Syarifuddin Zuhri, berpindah di GSG, menurut peserta yang bertanya pada satpam, ternyata di GSG bukan acara pemilihannya. Kami pun mencari-cari dan ternyata ruangannya diganti di depan ruangan bu Ida (ruang rapat Munawir Syadzali,. red),” jelasnya.

Angel mengaku, di luar dan di dalam ruangan tersebut sudah dijaga oleh satpam. Ia sebagai peserta peninjau mencoba masuk, tetapi dilarang masuk oleh bu Ida (Warek III,. red), padahal saat MOM-I disepakati bahwa sidang akan dimulai apabila memenuhi 50+1.

“Saat peserta peninjau tak boleh masuk, otomatis sidang tersebut tidak sah. Di dalem itu juga ada satpam, satpam itu kan bukan peserta penuh maupun peninjau, seharusnya tidak boleh ada didalam. Presidiumnya pun saya liat orangnya ganti, seharusnya juga tidak boleh, harus melalui kesepakatan quorum,” ungkapnya.

Setelah berkali-kali Kronika menghubungi pihak panitia pasca kongres, barulah pada Kamis (09/1) memberikan penuturan perihal pernyataan tersebut, ketua Pelaksana, Moch. Daelami Hasan dalam pengakuannya.

“Ketika hari kedua, yang berhak masuk adalah suara penuh, lalu dilakukan pembacaan draf-draf yang disetujui kemarin (hari pertama,. red) oleh presedium sidang, kemudian disepakati oleh forum, persidangan selesai pukul 10.30 WIB,” jelas Daelami ketika ditemui Kronika.

“Dari total 18 HMJ (suara penuh,. red), hanya 16 HMJ yang menghadiri sidang pada hari kedua. Acara selesai pukul 10.30 WIB,” tambahnya secara singkat dan tanpa keterangan lain perihal tuntutan tersebut.

Angle menambahkan, “Menurut saya pemilihan ini harus diulang, hal ini mau dikatakan sah atau legal pun ga bisa,” terangnya. Angle berharap, Ormawa ini lebih banyak membaca tentang AD ART Dan Banyak bertanya dengan pengurus-pengurus tahun lalu, jadi Kita bisa belajar dari kesalahan-kesalahan tahun lalu,” harapnya.

Menanggapi hal tersebut, M. Irfan Rouf Aufa, Ketua Sema-I terpilih, mengatakan, pada saat pemilihan hari Minggu itu dipending mekanisme pemilihan, dilanjutkan hingga Senin (6/01) pagi.

“Mekanisme pemilihan tidak menghadirkan calon dalam forum, jadi dinetralkan. Artinya dalam mengambil keputusan sesuai kesepakatan forum yang mempunyai hak suara penuh, karena sifatnya rahasia dan tertutup. Setelah itu, barulah calon dihadirkan dalam forum,” jelas Rouf kepada Kronika, Rabu 8 Januari.

Menurut Rouf, “Karena saya masih dalam forum saat hari pertama, kongres tertunda karena ada beberapa peserta peninjau, yang katanya dari Senat fakultas Syariah dan Dema Institut yang sudah demisioner. Mereka mempertanyakan panitia penyelenggara, terkait prosedural dan aturan penyelenggaraan kongres,” ujarnya.

Pertanyaan tersebut sudah dimediasi oleh Senat institut dan penanggung jawab Ormawa IAIN Metro yakni Warek III, tetapi ternyata belum selesai dan belum menerima terlaksana kegiatan, “Menurut mereka, kongres tersebut dilaksanakan tidak sesuai prosedural AD ART dan pedoman Ormawa,” tambah Rouf.

Senada dengan Rouf, M.Munif Jazuli, Ketua Dema-I terpilih, mengatakan pada Rabu (08/1), pelaksanaan sempat tertunda. Karena mungkin perbedaan tafsir dalam forum, tetapi hari kedua telah disepakati pemilihan tersebut selesai pukul 11.00 WIB.

Rouf kembali menambahkan mengenai AD ART. Menurutnya AD ART sekarang masih menggunakan AD ART tahun 2018, “Aturan untuk merubah AD ART itu dilakukan di forum MOM-I, terakhir AD ART yang telah disepakati di tahun 2018, dan ketika peserta tidak ada yang menyampaikan perubahan AD ART, berarti AD ART tahun lalu masih relevan,” terang Rouf ketika ditemui Kronika.

“Kalau Sema-I berwenang untuk merumuskan kembali, tetapi peserta diberikan hak untuk meminta peninjauan kembali atau pembahasan ulang, terkait beberapa poin AD ART yang ingin dirubah isinya atau redaksinya. Diajukan sekurang kurangnya 1/3 peserta dan disepakati sekurang-kurangnya 1/2 plus 1 dan diajukan secara tertulis,” tuturnya.

 

Ilustrator: Rani
(Reporter/Linda/Novia)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0