Rela Tabungan Kering, Demi Kuliah Daring

Terhitung hampir satu bulan, pemakaian kuota internet menjadi lebih banyak pada mahasiswa di seluruh Indonesia. Sejak dicetuskannya perkuliahan diganti menjadi sistem daring pada pertengahan Maret lalu.

 

Selayaknya kampus lain, IAIN Metro pun menerapkan sistem tersebut hingga akhir perkuliahan semester genap, masih ada beberapa bulan lagi yang akan dilewati mahasiswa untuk mencapai akhir semester. Hal ini dirasa berat bagi sebagian mahasiswa, salah satunya ialah AN, mahasiswa dari jurusan Tadris Pendidikan Matematika (TPM/IV).

 

Ia merasa, kuliah daring membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Karena dituntut untuk online setiap saat, “Menurutku perlu adanya bantuan kuota internet dari kampus, sebagai pengganti UKT yang telah dibayarkan oleh mahasiswa, biasanya kan¬†melakukan perkuliahan dengan tatap muka,” katanya saat diwawancarai Kronika via WhatsApp, Jumat (3/04).

 

“Terkait materi juga kurang dimengerti, karena materinya susah jika hanya dijelaskan melalui daring. Jaringan internet yang tidak stabil juga kadang-kadang menyusahkan ketika dikejar-kejar deadline yang super padet,” imbuhnya.

 

Serupa dengan AN, Alfiah, mahasiswa jurusan Tadris Biologi (TBio/IV), mengatakan, perkuliahan daring ini lebih boros, selain mengeluarkan untuk membayar UKT, “Kita juga harus modal untuk membeli kuota internet. Harapannya kampus mau memberikan sebuah kebijakan. Bisa dengan pengembalian setengah UKT untuk pembelian kuota, sehingga mahasiswa, serta dosen bisa saling bekerjasama untuk memperlancar pembelajaran,” jelasnya via WhatsApp, Minggu (5/04).

 

Alfiah merasa, masih ada sisi baiknya, “Walaupun terdapat sisi baiknya, kita tak perlu pergi ke kampus dan bisa berkumpul dengan keluarga. Namun, sulitnya memahami materi, signal yang tidak stabil, serta pengeluaran kuota yang besar, menjadi lebih terasa dari pada sisi baiknya,” ujarnya.

 

Penggunaan kuota internet yang besar juga disebabkan oleh penggunaan aplikasi yang menghasilkan audiovisual. Salah satu mahasiswa dari Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI/IV), Devi Arvina, mengaku, menggunakan aplikasi yang dirasa memberatkan tersebut.

 

“Pengeluaran uang untuk membeli kuota menjadi lebih besar, apalagi ketika menggunakan aplikasi Zoom. Saya berharap, kampus memberikan kebijakan penurunan UKT, seperti kampus lain yang sudah banyak menerapkannya,” ungkapnya, Minggu (5/04).

 

Berbeda halnya dengan Diyan Triyanto, Tadris Bahasa Inggris (TBI/IV), mengatakan, “Teman-teman memang mengeluhkan tentang hal tersebut. Semakin sering melakukan kuliah daring, akan lebih banyak kouta yang harus dikeluarkan. Saya pun merasakan hal yang sama, tapi itulah kebijakan kampus yang harus dipatuhi,” ujarnya.

 

Pihak lembaga baru bisa ditemui hari Senin, 13 April mendatang. Sehingga Kronika baru bisa mendapatkan informasi dari mahasiswa terkait, akan dilanjutkan dengan berita atas konfirmasi dari pihak lembaga di kemudian hari saat Kronika berhasil dan selesai mewawancarai pihak lembaga.

 

(Reporter/Atika/Rani)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0