Press ESC to close

Duta Kampus 2026: Representasi Kampus di Tengah Sorotan Transparansi Pemilihan

Duta kampus merupakan representasi perguruan tinggi yang berperan dalam memperkenalkan identitas, nilai, dan citra positif kampus kepada masyarakat. Sebagai wajah kampus, duta dituntut memiliki kemampuan komunikasi, wawasan, integritas, dan karakter yang baik.

Untuk itu, Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila) kembali menggelar Pemilihan Duta Kampus 2026 yang kedua kalinya, dengan puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 18 Oktober 2026.

‎‎Namun, proses pemilihan Duta Kampus 2026 menyisakan pertanyaan setelah masa pendaftaran yang semula berlangsung pada 27 Juli hingga 29 Agustus diperpanjang sampai 28 September 2026.

Melalui unggahan di akun Instagram @dutauinjusila_, panitia mengumumkan perpanjangan masa pendaftaran Duta Kampus beserta pembaruan syarat peserta.

Poin kelima dalam syarat terbaru tersebut menjadi sorotan karena memperbolehkan mahasiswa yang telah menyandang gelar duta di lingkungan UIN Jusila untuk ikut berkompetisi tanpa melepaskan atribut gelar sebelumnya.

Perubahan ini memunculkan pertanyaan mengenai dasar kebijakan panitia sekaligus minat mahasiswa untuk mengikuti pemilihan.

‎‎Penjelasan Panitia Mengenai Transparansi

‎‎Luky Virman Assodiq, Ketua Panita Duta Kampus 2026, menjelaskan mengenai proses seleksi. Ia menjelaskan bahwa penjurian tetap dilakukan secara tertutup.

Menurutnya, penilaian menjadi ranah juri yang memahami proses seleksi dan tidak dapat dibuka sepenuhnya kepada publik.

“Transparansi nilai dalam penjurian apa pun tidak terbuka untuk umum. Namanya penjurian itu tertutup sifatnya. Tidak ada penjurian terbuka, karena seadil apa pun, pasti akan menimbulkan pro dan kontra,” jelasnya, saat ditemui di ruang Humas pada Selasa (06/10/2026).

Baca Juga:  Ruang Satgas dan Rumor yang Selalu Ada

‎‎Meski penilaian dilakukan secara tertutup, ia menegaskan bahwa panitia tetap terbuka terhadap rekomendasi dari berbagai pihak untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan kandidat di luar proses penilaian juri.

“Bagaimana caranya, kita juga bingung untuk mendapatkan data yang paling valid, karena dia role model. Jadi, kita masih sangat terbuka di luar penilaian proses ini,” tegasnya.

‎Saat ditanya mengenai netralitas dalam pemilihan Duta Kampus 2026, ia membantah adanya kepentingan internal. Ia menyebut, panitia menghadapi kesulitan dalam mencari kandidat yang tepat, terlebih minat mahasiswa untuk mengikuti pemilihan duta kampus dinilai masih rendah.

“Kalau sampai ada yang dimanipulasi, justru kita berat sekali mencari yang ideal. Karena itu kepentingan Humas sendiri: mendapatkan duta yang tepat, yang memang sangat membantu pekerjaan lembaga dan kehumasan untuk sosialisasi kelembagaan. Sebenarnya, kita yang mengetahui prosesnya,” ujarnya.

‎Dari Pergantian Kepanitian hingga Anggaran

‎‎Ia juga menjelaskan bahwa kepanitiaan tahun ini mengalami penyesuaian dengan melibatkan unsur ormawa. Perubahan tersebut dilakukan setelah muncul kendala teknis sehingga kepanitiaan diambil alih oleh Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Aria Septi Anggaira.

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *