
Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, kita sering menyaksikan atau bahkan melakukan sendiri metode pengobatan tradisional yang sangat populer, yaitu kerokan.
Pengobatan alternatif ini dianggap praktis, murah, dan efektif oleh sebagian masyarakat. Hingga saat ini, metode kerokan masih dipercaya secara turun-temurun dapat membantu meredakan gejala masuk angin, seperti perut kembung, mual, pegal linu, hingga pusing.
Metode ini cukup mudah dilakukan karena hanya memanfaatkan alat kerok sederhana, seperti koin logam yang digesekkan pada permukaan kulit yang telah diolesi minyak.
Gesekan intensif antara alat kerok dan kulit tersebut menghasilkan ruam berupa garis-garis berwarna kemerahan atau ungu kehitaman. Warna merah yang muncul ini sering kali dipahami masyarakat sebagai tanda bahwa angin telah keluar.
Namun, secara medis, garis kemerahan tersebut sebenarnya merupakan tanda terjadinya peradangan atau inflamasi pada kulit. Perlu diingat bahwa tindakan kerokan yang dilakukan secara terus-menerus berpotensi memicu sejumlah dampak negatif bagi kesehatan tubuh.
Meski telah lama dipercaya sebagai pengobatan tradisional, kerokan tetap memiliki beberapa risiko kesehatan, terutama jika dilakukan secara berlebihan. Beberapa risiko tersebut antara lain:
- Iritasi Kulit
Proses gesekan yang kuat dan dilakukan berulang kali berisiko mengikis bagian kulit terluar manusia. Padahal, lapisan kulit terluar tersebut memiliki fungsi vital sebagai pertahanan pertama tubuh dari paparan dan masuknya berbagai kuman penyakit.
2. Pecahnya Pembuluh Darah
Warna merah atau keunguan yang muncul di kulit saat kerokan berlangsung sebenarnya adalah tanda pecahnya pembuluh darah kecil di bawah lapisan kulit.
Bahaya yang lebih fatal dapat terjadi pada daerah tubuh tertentu seperti area leher. Pembuluh darah di leher yang terus-menerus dikerok berisiko pecah dan dapat mengakibatkan serangan stroke.
3. Membuka Celah Masuknya Kuman
Efek mekanis dari kerokan akan menyebabkan terbukanya pori-pori kulit menjadi lebih lebar dari ukuran normal. Tanpa disadari, melebarnya pori-pori tersebut dapat berpotensi menjadi jalan masuk yang strategis bagi berbagai jenis kuman penyebab penyakit ke dalam sirkulasi tubuh.
Mengingat adanya dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari metode pengobatan tradisional tersebut, masyarakat sebenarnya memiliki beberapa alternatif lain yang lebih aman untuk mengatasi masuk angin tanpa harus mengandalkan kerokan maupun obat.
Langkah alternatif tersebut meliputi mandi dengan air hangat, banyak minum air putih, serta meminum seduhan rempah seperti jahe hangat yang melegakan pernapasan dan tenggorokan. Selain itu, beristirahat secara teratur serta mengonsumsi makanan bergizi juga sangat dianjurkan.
Dapat disimpulkan bahwa metode pengobatan tradisional kerokan masih menjadi alternatif penyembuhan masuk angin oleh masyarakat di Indonesia. Namun, tindakan menggesekkan koin yang menimbulkan peradangan atau inflamasi ini membawa risiko kesehatan nyata jika dilakukan secara terus-menerus.
Dengan mulai menerapkan berbagai alternatif medis yang lebih aman, kebiasaan kerokan ini diharapkan dapat dilakukan secara lebih bijak dan tidak berlebihan oleh masyarakat demi menjaga kesehatan jangka panjang.
Penulis: Nadin Marisa A.
Sumber Rujukan:
https://ojs.udb.ac.id/HUBISINTEK/article/view/2660
https://mayapadahospital.com/news/bahaya-dibalik-kerokan
Sumber Foto: alodokter.com
Tinggalkan Balasan