Adanya Vihara di Labuan, Jadi Jembatan Persahabatan Antar Agama

“Sesungguhnya perbedaan yang muncul itu merupakan satu keindahan kalau kita mampu menyatukan perbedaan itu”.

 

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pandhita Sumedho, Pembina Vihara Dhamma Ratana Labuan saat memberi penjelasan pada sesi testimoni agama Buddha kepada teman-teman persma yang mengikuti workshop Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) via zoom meeting, Sabtu (17/10).

 

Kerukunan dan persahabatan antara Buddha dengan masyarakat di Labuan dan Panimbang, Banten sangat dirasakan oleh laki-laki 61 tahun yang kerap disapa Romo ini.

 

Romo sudah tinggal di Labuan sejak 2010. Ia melihat ada potensi untuk membangun Vihara di Labuan ini, “Oleh karena itu, saya berupaya sangat keras, kita budhis masuk ke Labuan lalu mendirikan Vihara, dan ini didukung oleh warga setempat. Tidak ada pertentangan persoalan ataupun penolakan, bahkan ketika saya bertemu ketua MUI Labuhan, sangat disambut baik,” ujarnya.

 

Romo pun menepis jika ada pernyataan bahwa umat Buddha di Panimbang dan Labuan tidak diterima dengan baik di wilayah tersebut. Romo mengungkapkan, sebelum teman-teman persma menerima informasi, harus melihat atau mencari kebenarannya terlebih dahulu. Bisa langsung menuju ke lokasi atau bertemu dengan tokoh agama setempat.

 

“Buat saya itu suatu kebahagiaan, berkaitan dengan warga Tionghoa yang ditolak itu sama sekali tidak ada. Oleh karena itu baik Vihara, warga Tionghoa sendiri, kita turut membantu saudara-saudara kita, seperti bakti sosial, tanpa memandang suku, ras, agama,” tambahnya.

 

Dikarenakan banyak masyarakat di Panimbang dan Labuan memeluk agama Islam Ini tidak menjadikan umat Buddha terkucilkan. “Saya merasa bangga menjadi warga Buddha keturunan Tionghoa yang diterima baik di daerah Labuan dan Panimbang, bahkan ketika mereka ada kegiatan kita dilibatkan, seperti acara 17 Agustus dihadirkan kebudayaan barongsai,” pungkasnya. Umat Buddha juga sering membantu warga setempat tanpa memandang suku, ras, dan agama.

 

Menurut Romo, agama apapun jika bisa saling menghormati terhadap keyakinan siapapun dan keyakinan apapun tidak akan ada hambatan atau rintangan di kehidupan.

 

Romo juga menjelaskan, di samping Vihara terdapat mushola, dan vihara mereka juga satu gang dengan Gereja, “Kita tidak pernah merasa terganggu. Kita saling menghormati ketika mengadakan acara malam hari, lalu teman-teman muslim melakukan ibadah sholat kita behenti sejenak, berikan kesempatan terhadap saudara-saudara kita dan mereka sangat menghormati dan menghargai. Lalu saat kita pun memasang bendera budhis, mereka tidak masalah,” ungkapnya.

 

Menurut Romo juga di sekolah umum di Panimbang maupun Labuan, guru-guru tidak memaksakan para siswa untuk mengikuti kelas agama siswa muslim, ” Dari sekolahan pun tidak memaksakan agama, wah Buddha ga ada sekolahnya, budha ga ada pendidikan nya, udah masuk aja ke muslim, ga pernah saya denger kalimat itu, ” lugasnya.

 

Ustad Toni, seorang tokoh muslim yang juga merupakan ketua bidang kerukunan agama majelis ulama yang ada di Labuan menjelaskan, perbedaan suku dan agama di Labuan sudah ada semenjak zaman Belanda. Di Islam ada budaya bernama tahlilan, ustad Toni pun sering membawa umat Buddha ikut tahlilan, sekalipun umat Buddha ikut hanya untuk menyambung silahturahmi.

 

Begitupun dengan Hendrase, seorang Tionghoa Labuan sering membaur ke masjid karena ia merasa sudah seperti saudara sendiri.

 

Sama halnya dengan Hendrase, Agustiar umat Buddha dari Panimbang mengatakan hubungan Islam dengan Buddha di Panimbang sangat harmonis. Setiap ada kegiatan bakti sosial, gotong royong umat Buddha selalu di undang, “Karena kita satu negara, bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Kalau mau masuk agama apapun itu keyakinan masing-masing,” tutur Agus.

 

Nur Azizah, salah satu masyarakat muslim Labuan membenarkan jika memang di Labuan terdapat toleransi yang kuat terhadap umat beragama lainnya, “Ya di sini memang ada umat Buddha mba, tidak banyak cuma memang ada. Di sini kita fine-fine aja. Karena kan kita ga bisa maksain harus masuk Islam. Jadi di sini saling menghargai aja,” ujar gadis 20 tahun ini.

 

“Biasanya memang Agustus dimeriahin penampilan barongsai dari Vihara Buddha Ratana Labuan. Ya kalau aku si tanggapannya bagus ya mba. Di sini tidak ada pembeda, eh dia buddha, eh ini muslim tidak usah temenan sama dia ga ada si. Jadi di sini memang baik-baik aja, ” tambah Azizah saat dihubungi via WhatsApp, Jumat (23/10).

 

Begitupun dengan Azizah, Ariya, laki-laki 21 tahun yang juga salah satu warga Tionghoa Labuan juga membenarkan adanya toleransi tersebut, “Saya tinggal di Labuan sejak 2017. Memang di sini sangat toleransi kak. Saya yang tionghoa ini merasa seperti saudara sendiri di sini. Tidak ada pembeda. Karena menurut mereka keyakinan mereka ya keyakinan mereka, keyakinan saya ya keyakinan saya,” pungkasnya saat dihubungi via WhatsApp, Minggu (25/10).

 

“Saya pernah diajak teman untuk ikut tahlilan seperti itu dan saat saya datang semuanya welcome. Walaupun saya hanya di luar tidak ikut masuk. Semoga toleransi ini tidak berjalan hari ini, tapi esok, lusa, dan seterusnya,” harap Ariya.

 

“Teman-teman bisa mematahkan paradigma yang selama ini terjadi yang menghambat kehidupan kerukunan antar agama maupun di Labuan atau Panimbang,” ucap Romo di akhir sesi testimoni.

 

(Reporter/Novia Umi Astari)

***

Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0