Luka yang Terawat

“Jane?”

Aku tergagap, mendengar suara Smith mengeras dengan tangan kanannya yang dilambai-lambaikan di depan wajahku. Aku menolehnya, menatap matanya yang terlihat mengkhawatirkanku.

“Kau tak apa?” tanyanya lagi.
Aku tersenyum kecut, kembali melihat trotoar yang ramai dengan orang berlalu lalang.
“Smith, kau melihat wanita muda yang baru saja membeli koran itu?” tanyaku pada Smith yang terlihat kembali lega.

“Ya. Apa yang kau lihat, Jane?”
“Pukul lima nanti dia mati, Smith. Diaa … dibunuh oleh dosanya,” ucapku datar.
Smith menatapku sebentar, meminta penjelasan. Dia sudah terbiasa dengan ucapanku yang terdengar mengerikan. Tidak lama seorang laki-laki sebaya dengan senyum lebar menghampiri wanita itu dengan sebuah pelukan. Aku tertawa melihat kemesraan mereka.

“Laki-laki itu pembunuhnya?” Tanya Smith penasaran. Pandangannya mengikuti arah mataku.
Tawaku semakin mengeras mendengar pertanyaan Smith. Kemudian aku diam, menatap Smith tajam. Smith menatapku bingung. Aku kecewa, tujuh tahun bersama ternyata belum cukup membuatnya mengenalku.

“Jangan kecewa padaku, Jane. Bahkan Ayahku yang seorang professor pun tidak akan paham isi kepalamu” Smith menatapku dalam, seolah tahu apa yang aku pikirkan.
Diam. Bisu.

“Jane, siapa yang membunuh wanita itu?” Smith memburuku.
“Setelah semua yang dia lakukan, apa kau tak membenci Ayahmu, Smith? Ah kau benar-benar anak membanggakan,” Aku mengalihkan pembicaraan. Kisah Smith dan Ayahnya terlalu menarik untuk ditinggalkan begitu saja. Dendam kami sama, maka dendam kami harus sama-sama dituntaskan.

Smith mendengus kecil. Matanya menatap kopi pekat di depannya. Ada banyak kebencian, amarah, dan dendam disana. Tapi hanya beberapa saat, lambat – lambat mata iblis yang ku lihat itu menghilang. Berganti sesungging senyum yang sulit aku artikan. Sulit, sulit sekali.

“Jane?” ia memandangku.
Aku menatap matanya. Aku sudah memancing, tapi kenapa tidak ada lagi dendam disana? Tidak apapun yang terjadi, dendamku, dendam Smith harus terbalaskan.

“Apa kau masih bernafsu membalaskan dendammu?” matanya tajam menatapku.
Dasar bodoh! Pertanyaan macam apa yang baru saja ia ajukan. Sebagai jawaban ku tunjukan tanganku yang mengepal keras, lalu aku mengambil sebuah pisau cutter dari saku belakang. Smith tertawa, tapi dari pandangannya justru raut kasihanlah yang aku dapatkan dari matanya.

“Jangan mengasihaniku, sialan!” aku menggebrak meja di depannya. Tidak peduli orang-orang di dalam kafe memandang kami ngeri..
“Tidak, aku justru akan menolongmu menuntaskan dendammu”.
***
Smith membawaku pada bangunan besar berpetak-petak dengan didominasi warna putih. Aku tentu tahu, ini rumah sakit tempat Ayahku bekerja. Tidak lama aku melihat laki-laki yang kupangggil Ayah itu keluar ruangan dengan banyak bercak noda darah di sarung tangan dan jasnya.

“Lihat Jane, kau pikir Ayahmu lelah untuk siapa? Sebagian pasti untukmu,”
”Di dunia ini tidak ada orangtua yang sempurna, Jane. Orangtuamu juga manusia biasa, dendam seperti apa yang pantas kau lakukan? Mereka orangtua yang baik, Jane. Memberimu sebotol susu saat kau bayi, menyekolahkanmu dan membuatmu berpikir lebih luas, membiarkanmu hidup. Kalau kau merasa mereka sangat buruk memperlakukanmu, itu hanya tentang sempitnya pemikiranmu. Jane, mengapa kau tak tumbuh dengan baik lewat lukamu saja.

Mengapa pembuktian kau bisa hidup, dengan menyakiti mereka kembali. Jane, tidak ada yang perlu disalahkan. Kau juga tak perlu menyalahkan dirimu sendiri. Tidak ada gunamya, Jane. Sama sekali tidak ada gunanya. Kau banyak menyalahkan orangtuamu untuk banyak hal yang terjadi hari ini. Ah, Jane kau terlalu berfokus pada kesalahan mereka dan justru itu yang tumbuh membuat dendammu makin menganga.”

Smith menggoyangkan tubuhku.
“Jane, sadarlah. Luka-luka seperti itu tak perlu kau rawat. Juga, kelakuan dan pemikiranmu yang jauh sekali dari manusia normal itu seharusnya tidak pernah ada. Atau Jane, ataukah itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan untuk melarikan diri? Kau yang pengecut Jane, kau tidak menerima bahwa memang beginilah realitanya dunia. Dan lebih menyedihkannya, kau sendiri yang membuat lukamu makin menganga,”.

Aku mendengus kecil. Bagaimana iblis ini bisa memetik satu bunga dari surga, pikirku. Sialan, seharusnya yang kubunuh hari ini adalah Smith. Tapi, aku sedang ingin libur hari ini. Aku sedang tidak bernafsu membunuh siapapun.

(Penulis/May)