Senja Milik Laki-Laki Tua

Suatu hari di bulan Juli, seorang laki-laki tua duduk di beranda menikmati sepoi bayu dan jingga. Ia mengabaikan suara kursi goyangnya yang berderit termakan usia. Dengan secangkir kopi di atas meja, sesekali ia tersenyum melihat formasi belasan sayap pulang ke sarangnya. 

“Mari, mbah,” sapa tetangganya yang baru saja pulang dari ladang.
“Nggeh, monggo pinarak,” begitu balasnya.
“Nggeh mbah. Wangsul riyen.”
Mbah Darmo, laki-laki yang sedang menikmati masa tuanya. Masyarakat di desa menyegani dan menghormatinya karena jarang sekali ditempatnya kini melepas senja ada orang yang mampu menyekolahkan semua anaknya hingga sarjana. Bagi mereka yang terpenting bisa makan, lulus SD, dan bisa membaca sudah senangnya bukan kepalang.
Ya, dengan jerih payah mbah Darmo kala masih cukup tenaga, berhasil menyekolahkan putra putrinya hingga bertopi toga. Saat ini anak-anaknya ada yang bekerja sebagai pemimpin perusahaan swasta, Abdi Negara, yang bungsu punya rumah makan besar di ibukota. Setiap bulan mereka bertiga mengirim uang banyak, banyak sekali jumlahnya.

Aku adalah sosok yang menemaninya dari kala ia baru saja menikah sampai dipanggil Opa oleh cucu-cucunya. Panggilan musiman yang hanya terdengar saat lebaran datang. Jadi sudah tentulah, tentang mbah Darmo tidak ada yang lebih tau selain aku.
Tidak lama, aku melihat air jatuh melewati pipinya yang keriput. Awalnya ku pikir apa, ternyata mbah Darmo menangis. Aku tidak tahu apa-apa sungguh, aku tidak mampu berkata-kata untuk menanyakan perihal sebabnya.
“Enduk, le bapak kangen,” begitu katanya tiba-tiba. Ah, ternyata perihal rindu.
“Enduk, le cah bagus, bapak punya buku dongeng baru. Bapak jalan-jalan ke pasar, diantar mang Udin tukang ojek nemu buku kesukaanmu,” airmatanya jatuh lagi.
Aku melihatnya. Aku melihat rindu itu sudah tertumpuk. Aku ingin sedikit menghiburnya, tapi sepertinya ia sedang tak ingin digannggu siapa-siapa.
“Tadi bapak lihat, foto-foto kalian dalam album pakai toga. Saat kalian resmi menyandang gelar sarjana. Bangga bapak le, enduk sama kalian, maha maik gusti Allah sudah membawa kalian pada kemapanan. Tapi enduk, le cah bagus mboten kangen nopo sampean kaleh bapak?,” suaranya kian serak.
Tiba-tiba mbah Darmo menatapku sambil tersenyum pilu bersamaan dengan panggilan dari Tuhan dan kumandang gelap yang mulai merangkak.
***
Dua laki-laki setengah baya dan perempuan muda itu menangis pilu. Percuma! batinku pada mereka. Andai saja aku ini sanggup berteriak, ingin rasanya aku menjerit didepan telinga mereka. Dimana kalian saat mbah Darmo rindu? Kau pikir uangmu bisa menutup rasa rindu. Kau pikir uangmu bisa membeli sebuah pengharapan untuk bertemu. Mbah Darmo, bapakmu, ingin kau pulang menengoknya. Mbah Darmo, bapakmu, laki laki tua yang kesepian. Karna dalih pekerjaan dan kesibukan kalian lupa siapa yang berkeringat hingga kau punya ‘nama’. Ajakan tinggal dirumah salah satu dari kalian adalah tawaran membahagiakan. Tapi pada akhirnya diantara rentetan kesibukanmu bukankah kalian tidak akan bisa mengurusnya? Yang kalian lakukan mungkin hanya menyewa pembantu untuk mengurusnya. Maka, bapakmu lebih bahagia menikmati masa tuanya di desa kecil tempatmu tumbuh. Di desa kecil tempatmu merengek minta dibacakan dongeng. Tapi yang lebih ia sukai, kau pulang dan menemaninya. Dua minggu sekali, sudah cukup baginya jika menyempatkan sehari dalam seminggu terlalu berat. Ah andai aku ini mampu, pasti sudah ku ceritakan bagaimana gugu pilu seorang bapak yang merindu berkumpul dengan anak-anaknya hingga rindu mencekik, menghabisi umurnya. Duhai, apalah dayaku hanya sebuah cangkir keramik kecil, tempat biasa mbah Darmo menyeduh kopi.

Oleh : May Sarah TBI/3