Press ESC to close

Dari Akar Pohon Hingga Keramik Terangkat, Kini GSG UIN Jusila Akhirnya Diperbaiki

Bau apak bekas air hujan tercium cukup kuat saat kaki kami melangkah masuk ke bagian dalam Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung (Jusila). Gedung tersebut saat ini tengah direnovasi seletah beberapa waktu tampak rusak termakan usia.

Sabtu siang itu (23/5), kami menginjakkan kaki lewat area pintu belakang sebagai akses pertama. Alas sepatu kami basah oleh genangan air bekas hujan yang bercampur lumpur bekas proses renovasi. Genangan setinggi mata kaki itu masih terlihat di beberapa titik dalam gedung. Air menetes dari celah atap yang dibongkar.

Melihat lebih jauh, bagian tengah atap sudah dibongkar setengah dan memperlihatkan rangka bangunan di bagian atas. Sementara itu, plafon berwarna putih di bawah atap masih banyak yang belum dilepas, menyuguhkan potret plafon yang menggantung tidak rata. Sejumlah alat elektronik pun tampak dibungkus plastik guna menghindari tetesan air hujan.

Sambil menghirup udara lembap dan pengap, kami menemui pekerja renovasi GSG. Saat dimintai keterangan, salah satu pekerja mengaku renovasi hanya dilakukan pada bagian atap dan telah dimulai sejak 4 Mei 2026 dan dikerjakan oleh enam orang pekerja.

Penjelasan Pimpinan kampus

Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, kami telah menemui pihak pimpinan kampus demi memperoleh informasi lebih lengkap. ‎Wakil Rektor (Warek) II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Yudiyanto, menerangkan jika keputusan renovasi GSG dilakukan setelah kampus melakukan monitoring dan survei terhadap kondisi gedung pada akhir tahun lalu.

blank
WR 2 Bidang Akademik Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Jusila, YUDIYANTO

‎”Kemarin sempat bocor sampai menggenang di lantai. Setelah kami survei dan monitoring, akhirnya diputuskan harus diperbaiki,” terangnya saat diwawancara, Selasa (19/05/2026).

Baca Juga:  Pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode I Tahun 2025: Fokus Pemberdayaan di Metro dan Lampung Timur

‎Menurutnya, kerusakan GSG tidak lagi dapat ditangani melalui pemeliharaan biasa karena sumber utama kerusakan berada pada bagian atap. “Kalau hanya perawatan biasa tidak cukup. Karena akar masalahnya ada di atap, jadi memang harus dibongkar dan diganti,” lanjutnya.

Anggaran Renovasi

‎Dalam proses renovasi, kampus melibatkan konsultan perencana untuk mengobservasi kondisi gedung dan menghitung kebutuhan perbaikan, karena renovasi menyangkut struktur bangunan.

‎”Kalau hanya ganti lampu atau perawatan kecil tentu tidak perlu konsultan. Tapi, ini sudah menyangkut struktur bangunan, jadi memang ada konsultan perencana yang melihat langsung kondisi gedung,” jelasnya.blank

‎Ia juga memperkirakan anggaran renovasi GSG mencapai lebih dari Rp100 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk penggantian sebagian atap yang dinilai sudah tidak layak. “Kemungkinan di atas seratus juta karena memang ada penggantian sebagian atap yang sudah tidak layak,” katanya.

Perbaikan Bertahap

‎Perbaikan GSG dilakukan secara bertahap di tengah kebijakan efisiensi anggaran kampus. Pada tahap awal, kampus memprioritaskan perbaikan atap agar kebocoran tidak makin merusak fasilitas lainnya.

‎“Kita sedang efisiensi, jadi belum bisa langsung mengeksekusi semuanya sekaligus. Yang diprioritaskan sekarang atap dulu supaya tidak bocor lagi,” tuturnya.

‎Selain atap, sejumlah fasilitas di dalam GSG juga dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari keramik terangkat, plafon rusak, kusen lapuk, hingga akar pohon yang menjalar ke area panggung.

‎”Hampir semua fasilitas di GSG ada laporan kerusakan. Bahkan ada akar pohon yang masuk ke bagian panggung,” ungkapnya.

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *