
“Belum semua SDM memahami OBE. Cara kita menyampaikan apa itu OBE membutuhkan waktu, kesabaran, ketelitian, komunikasi dan interaksi yang sangat baik dengan para dosen,” katanya.
Kampus juga tengah mengembangkan aplikasi kurikulum berbasis OBE sebagai penerjemahan dari dokumen kurikulum. Aplikasi tersebut ditargetkan mulai diterapkan pada semester ganjil tahun akademik 2026/2027.
“Pengembangan yang kami lakukan sekarang adalah aplikasi kurikulum berbasis OBE. Insyaallah akan diberlakukan mulai semester ganjil ini,” jelasnya.
Benarkah Semester Tujuh Masih Ada Mata Kuliah?
Menanggapi anggapan bahwa mahasiswa semester tujuh tidak dapat melaksanakan seminar proposal karena masih memiliki mata kuliah dalam Kurikulum OBE, Kisno menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.
“Itu anggapan yang keliru. Mahasiswa tetap bisa seminar proposal pada semester tujuh karena ada mata kuliah Tugas Akhir I. Semester delapan baru Tugas Akhir II atau munaqasyah. Jadi, yang belum bisa pada semester tujuh adalah munaqasyah dan wisuda, bukan seminar proposal,” jelasnya.
Kurikulum OBE juga memberikan alternatif penyelesaian tugas akhir bagi mahasiswa. Selain skripsi, mahasiswa dapat menghasilkan artikel ilmiah, buku, atau produk inovatif lain yang diakui sesuai ketentuan.
“Jadi, tidak harus selalu skripsi. Artikel ilmiah sekitar 15 halaman yang dipublikasikan pada jurnal nasional maupun internasional juga bisa menjadi pengganti tugas akhir,” ujarnya.
Kisno berharap implementasi OBE benar-benar diwujudkan dalam proses pembelajaran, bukan hanya tertuang dalam dokumen kurikulum.
Ia juga berharap seluruh dosen memiliki visi yang sama dalam mewujudkan profil lulusan sesuai capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.
“Pembelajaran juga harus makin berpusat pada mahasiswa dengan berbagai pendekatan, salah satunya project-based learning sesuai kepakaran masing-masing,” pungkasnya.
Respon Mahasiswa
Sementara itu, tanggapan datang dari salah satu mahasiswa UIN Jusila yang menilai bahwa kurikulum tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengikuti proses pembelajaran, tetapi juga memahami serta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
”Mahasiswa tidak hanya mengikuti pembelajaran, tetapi harus benar-benar memahami materi yang telah dipelajari, sehingga tidak hanya memiliki tambahan gelar di belakang nama, tetapi juga memiliki pengetahuan yang luas,” ujarnya.
Ia berharap penerapan Kurikulum OBE dapat melahirkan lulusan yang kritis, berkualitas, berintegritas, dan kompeten dalam bidangnya.
“Semoga kurikulum ini tidak hanya mencetak sarjana yang bingung nantinya mau ke mana, tetapi mencetak sarjana yang sudah tahu saya harus ke mana,” pungkasnya.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Tadris Matematika (TMTK’25) Raihanun Nisaul Khoir, menilai Kurikulum OBE memiliki keunggulan karena berfokus pada proses pembelajaran yang berjalan sesuai dengan RPS yang telah disusun.
“Menurut saya, Kurikulum OBE mempunyai keutamaan karena berfokus pada kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan rencana pembelajaran di kelas,” ujarnya.
Ia berharap penerapan Kurikulum OBE dapat dilaksanakan secara konsisten oleh seluruh dosen dan prodi sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang terstruktur dan mampu mengembangkan kompetensi sesuai bidang keilmuan.
“Saya berharap Kurikulum OBE dapat diterapkan secara konsisten sehingga kegiatan pembelajaran benar-benar berjalan sesuai dengan rencana dan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas serta kompeten di bidangnya,” harapnya.
Reporter: Rafi/Humai
Tinggalkan Balasan