4 April 2025
Lembaga Pers Mahasiswa » Blog » Perang Politik Sebagai Identitas Negara?

Perang Politik Sebagai Identitas Negara?

Kampanye adalah sebuah proses yang lazim dilakukan oleh calon pemimpin. Kampanye berguna untuk memperkenalkan calon pemimpin dengan visi-misi dan program-program yang akan dijalankan nantinya. Tidak lebih dari hal itu! Selebihnya adalah kepentingan politik, menyadarkan masyarakat bahwa ia lah yang mampu dan pantas akan kursi kepemimpinan. Bukankah hal tersebut politik? Terlebih lagi memberikan materil sebelum dilakukannya proses pemilihan dengan dalih berbaik hati, bukankah hal tersebut percuma? Masyarakat haruslah realistis dengan hal itu semua. Pandangan masyarakat sejatinya juga sudah mengetahui alur politisasi. Namun banyak yang menafikkan kepentingan partai tersebut, karena masyarakat juga memiliki kepentingan untuk memilih pemimpin yang tepat. Hasilnya fenomena tersebut menyebabkan kepentingan di atas kepentingan. Mereka berdalih untuk memilih pemimpin yang bersih yang siap menampung semua aspirasi masyarakat dan merekalah yang siap turun pada masa kampanye. Orang-orang yang percaya hal tersebut maka itulah orang-orang yang terjangkit tipu daya kepentingan politik.

Kepentingan politik dan kemauan memimpin tidak memiliki perbedaan yang berarti. Hanya dengan membaca sejarah kita dapat memilih pemimpin yang berkompeten. Bukan dengan isu-isu rasis yang dewasa ini banyak beredar sebagai penguat untuk memilih karena hal tersebut adalah politik, yang akan menggerogoti bangunan kokoh negara ini. Racun! Itulah racun politik. Nantinya akan memunculkan tikus-tikus jalanan. Masyarakat haruslah dewasa dalam menyikapinya, jangan serta merta membawa bendera maka kita akan menyertai calon-calon pemimpin dari bendera yang kita usung, hal itu salah. Terlebih nantinya kepemimpinan ini akan berlangsung lama dan tidak mungkin kita menolak kebijakannya. Dengan membeda-bedakan kepentingan akan menumbuhkan banyak perbedaan pendapat. Hingganya kepentingan masyarakat untuk dapat menikmati kehidupan yang didasarkan akan Islam akan tetap bergejolak, bahkan kepentingan masyarakat akan berhenti sebatas kepentingan regulasi pemerintah.

Masyarakat hari ini dibutakan karena kepentingan, karena canduan kata-kata bukan karena pembuktian. Bendera akan selalu menjadi landasannya berpikir. Masyarakat desa hari ini justru lebih cerdas dibanding dengan perkotaan, mereka seakan-akan tidak mempercayai bendera-bendera partai, siapa yang salah maka dialah yang salah. Tidak membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, tidak juga membawa agama dalam kepentingan politik. Kecerdasan seseorang banyak dipatahkan dengan ego dan keideologiannya. Banyak orang cerdas di negeri ini, namun mereka terjaring dalam kepentingan politik. Bagaiamana bung Hatta memisahkan diri dengan bung Karno. Bagaiamana Habibi seakan-akan melindungi Soeharto dalam periode pemerintahannya. Perlu diingat juga bahwa kemarin terdapat berbagai partai dengan dalih koalisi kekeluargaan yang akan mengusung paslon Gubernur DKI nantinya, pada akhirnya juga bubar, calon pemimpin yang meyuarakan aspirasi rakyat dengan tidak akan membawa nama partai juga memupus harapan rakyat, dengan terlibat dalam partai politik untuk mencari dukungan.

Kepentingan politik dewasa ini menjadi salah satu pembunuh aspirasi rakyat, bukan menjadi penyambung lidah namun memupus harapan rakyat. Orang-orang baik akan terbungkus rapi dengan kepentingan politik. Orang-orang yang seharusnya membangun negeri ini dengan kepribadiannya, namun salahnya juga mereka tergabung di dalam politik maka akan sulit negeri ini untuk bangun. Bilamana negeri ini akan dibangun dengan kepentingan politik maka negeri ini akan senantiasa berbohong. Apalah arti dari sebuah seruan-seruan? Apabila Kedudukan adalah tujuannya. Negeri ini akan senantiasa terpuruk bilamana kepentingan partai dijadikan acuan dalam mengambil kebijakan. Partai yang seharusnya mendukung dan memberi pandangan, kenapa malah menjadi penghalang?

Banyak yang mengatakan pemilihan Gubernur DKI adalah serasa pemilihan Presiden yang melibatkan banyak partai dan kepentingan. Hal itu sangat memilukan, dan menjadi kritikan pedas bahwa negeri ini akan dikuasai oleh segelintir orang dan golongan, serta golongan lain akan menjadi penonton dari drama pemerintahan. “Lucu”, bukan? Bahkan tidak jarang nantinya ada hubungan timbal balik, bagaimana kemudian pihak penyokong dana akan meminta imbalan dengan dalih balas budi.

Dimana kelas-kelas kapitalis nantinya akan menjadi semakin kapital, harta hanya akan tetap berada pada orang-orang kapital. Ditambah dengan pemulusan dalam kepengurusan berkas-berkas yang berbau kepemerintahan. Bagaimana pemangku kebijakan dan pemilik modal telah mendustakan agama dan negara, dengan menguras habis tenaga, pikiran, dan modal serta sumber daya alam yang dimiliki oleh rakyat alit. Elit politik hari ini seperti tak henti-hentinya membombardir kekukuhan masyarakat untuk dapat hidup damai dan sejahtera. Masyarakat menjadi bahan lakon tanpa henti dilibatkan dalam kepentingan politik.

Bangku kekuasaan hari ini menjadi fenomena. Bukan hanya ditingkat pemerintah pusat, daerah, kabupaten dan kota, melainkan pada tingkat kemahasiswaan juga demikian. Banyak mengedepankan kepentingan golongan, tak hayal dimana kemudian negara ini akan menjadi sebuah petakan-petakan kepentingan. Tidak membaurkan dalam lingkaran kesatuan dan persatuan. Ditambah dengan memberikan berita palsu (hoax) untuk menggulingkan kursi hari ini banyak dilakukan oleh berbagai elemen, demikianlah kepentingan orang-orang yang terpinggirkan dalam pemerintahan. (Oleh/Dwi Nugroho/Esy/VIII)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *