Pertanyaan

Kita tidak asing dengan kata “Pertanyaan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) pertanyaan memiliki arti perbuatan bertanya; meminta keterangan atas sesuatu yang ditanyakan.
Berapa ahli memiliki pendapat mengenai pengertian pertanyaan. Harimurti Kridakala berpendapat bahwa pertanyaan adalah ujaran yang meminta jawaban. Sedangkan Cotton berpendapat bahwa setiap kalimat yang memiliki bentuk interogatif atau function adalah pertanyaan. Sedangkan menurut Rasyid pernyataan adalah hal yang menumbuhkan pengetahuan seperti menganalisis, sintesis atau evaluasi, menguji pengetahuan, memahami dan mengaplikasikan. Dapat disimpulkan bahwa pertanyaan adalah ucapan yang memiliki bentuk interogatif yang disampaikan guna mendapatkan jawaban.
Manusia dan Pertanyaan
Semua manusia sejak dilahirkan dipastikan memiliki kecerdasan. Hal ini bisa dibuktikan bahwa semua anak-anak dapat berpikir, corak berpikir mereka beragam dan tak terbatas. Sebelum mengenyam bangku sekolah, anak seringkali bertanya apapun. Pertanyaan mereka sangat banyak, muncul secara spontan, murni, tak dapat dibendung serta tidak selalu mudah dijawab. Namun, sejak mengenyam pendidikan dasar intensitas pertanyaan mereka menurun.
Hal tersebut dibuktikan ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, pertanyaan anak-anak sedikit berkurang. Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Akhir intensitas pertanyaan mereka semakin berkurang drastis.
Setelah lulus Sekolah Menegah Akhir, sebagian dari mereka melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Sama seperti jenjang pendidikan sebelumnya, kelas seringkali menjadi sebuah ancaman sehingga kehendak untuk bertanya hanya didasarkan formalitas. Pertanyaan menjadi mati dan membeku. Dengan kajian ilmu pengetahuan yang beragam seharusnya banyak pertanyaan muncul, namun tidak sedikit mahasiswa yang kesulitan untuk membuat pertanyaan.
[irp]
Pentingnya Pertanyaan
Kita semua mengetahui ada sebuah hal yang membedakan antara manusia, hewan dan mesin pintar. Manusia memiliki akal pikiran, sedangkan hewan dan mesin tidak. Dengan kelebihan tersebut, manusia memiliki keistimewaan dengan dapat bertanya. Kehidupan menunjukkan bahwa manusia akan berpikir jika berhadapan dengan masalah. Umumnya permasalahan tersebut adalah hasil dari pertanyaan.
Secara tidak langsung, supaya dapat berpikir manusia harus berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan dan merumuskan pertanyaan untuk merangsang pemikiran. Dengan banyaknya pertanyaan dipastikan kemampuan berpikir semakin berkembang dan jawaban dari pertanyaan tersebut akan menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan.
Sehingga dari pertanyaan manusia ini muncul berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sains, teknologi, agama, sosial, ekonomi, seni dan kebudayaan. Ketika muncul ribuan pertanyaan, dipastikan ilmu pengetahuan semakin berkembang dan hal tersebut akan berdampak baik pada peradaban manusia.
Penulis melihat beberapa persoalan fundamental sehingga menyebabkan hilangnya pertanyaan, seperti mengakarnya kejumudan. Jumud adalah sikap yang menjadikan pandangan terpaku pada suatu hal disertai upaya keras untuk mempertahankan. Seringkali ilmu pengetahuan dianggap sebagai barang mapan, sehingga tidak boleh dikritik, ditolak dan ditafsirkan ulang. Padahal kehidupan manusia selalu berjalan dan setiap zaman melahirkan tantangan berbeda-beda.
Selanjutnya, pertanyaan dianggap tidak lebih penting dari jawaban, sehingga seringkali pertanyaan tidak dibuat secara maksimal dan berkutat pada persoalan teknis. Padahal pertanyaan adalah jalan untuk menemukan hal baru. Pertanyaan biasa akan melahirkan jawaban biasa, sedangkan pertanyaan hebat akan melahirkan hal yang hebat.
Di Negara dengan mutu pendidikan tinggi, evaluasi pembelajaran tidak diukur dari kemampuan siswa memberikan jawaban, melainkan diukur dari kualitas pertanyaan. Sedangkan pendidikan kita menilai mutu dari jawaban, bukan dari kualitas pertanyaan. Sehingga sulit ilmu pengetahuan dapat berkembang.
[irp]
Praktik penyeragaman juga dilakukan sampai berakar kuat di Indonesia, bahkan penyeragaman dilakukan sejak pendidikan dasar. Sejatinya setiap manusia memiliki kemampuan berbeda. Jika melihat pandangan Howard Gardner, manusia memiliki 8 tipe kecerdasan. Dalam pelaksanaannya pendidikan tidak mengembangkan kecerdasan alami manusia, namun memaksa manusia untuk memiliki kecerdasan yang sama. Penyeragaman dilakukan mulai dari seragam formal sampai bagaimana pola berpikir.
Mayoritas pengajaran berlangsung seperti banking system. Pengajar memposisikan diri sebagai seorang superior dan satu-satunya subjek belajar, sedangkan murid adalah objek belajar sehingga Guru hanya bercerita dan murid cukup mendengar. Akibatnya manusia hanya menghafal tanpa mengerti, pengajaran semacam ini jelas membunuh kreativitas pikiran.
Pendidikan juga lepas dari realitias sosial. Hari ini perubahan sosial berjalan cepat, sehingga diperlukan respon atas perubahan. Manusia tidak bisa lepas dari realitas sosialnya, sehingga realitas harus dihadapkan kepada siswa supaya memiliki kesadaran atas realitas tersebut. Ketika jauh dari realitas, dipastikan manusia kehilangan nalar kritis. Ketika nalar kritis hilang apa yang terjadi?
Ilmu pengetahuan dan pikiran akan dapat berkembang apabila manusia dapat lepas dari belenggu yang mengekang, mengkritik hal yang dianggap mapan dan menafsirkan realitas sosial. Seperti organisme yang hidup, manusia harus berkembang sepeti denyut nadi peradaban. Dari pertanyaan kita belajar. Menjawab pertanyaan memang penting, namun menyusunnya jauh lebih penting.
Oleh: Reza Syarifudin Zein (Mahasiswa)