
Selain itu, saat ditemui Kronika pada 25 Juni 2026, Sub Bagian Perencanaan, Supendi, menerangkan bahwa pihak kampus saat ini memprioritaskan penanganan pada sumber kerusakan utama agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Ia menjelaskan, sejak GKT selesai dibangun, sejumlah kerusakan sempat muncul, seperti plafon yang rusak serta beberapa bagian bangunan lain yang juga memerlukan perbaikan. “Setelah gedung itu dibangun, itu ada beberapa kejadian seperti plafon yang rusak,” ungkapnya.
Pada masa pemeliharaan, pihak penyedia UIN Jusila juga telah melakukan perbaikan, termasuk mengganti plafon hingga dua kali. Namun, menurutnya, penggantian plafon saja tidak menyelesaikan persoalan secara tuntas karena sumber kerusakan belum diketahui secara pasti.
”Waktu masa pemeliharaan itu memang sudah memperbaiki, termasuk plafon, plafon itu sudah dua kali pergantian, bukan hanya sekali, tapi dua kali,” yakinnya.
Lebih lanjut, Supendi juga menerangkan bahwa hal yang terpenting yaitu mencari sumber terjadinya kerusakan bukan hanya memperbaiki saja. “Yang penting bukan hanya memperbaiki plafonnya, tetapi mencari tahu kenapa plafon itu bisa rusak. Kalau penyebabnya tidak diselesaikan, kerusakan yang sama akan terus terjadi,” ujarnya.
Setelah dilakukan penelusuran, ia menerangkan jika kerusakan plafon dipicu oleh masuknya air hujan ke dalam bangunan. “Air yang merembes dan menggenang kemudian menyebabkan plafon berlubang dan ambrol,” ungkapnya.
Sebagai langkah penanganan, sejak 2024 pihak kampus mulai memasang penutup kaca pada sejumlah bagian teras untuk mengurangi tampias air hujan. ”Sejak tahun 2024 itu kita pasang teras itu penutup kaca, tapi karena anggaran kita terbatas jadi nggak semua,” jelasnya.
Pada awal tahun 2026 ini, kampus terus berupaya berbenah untuk perbaikan gedung dengan cara menutup seluruh jendela pada GKT, terkecuali pada bagian depan gedung.
“Pada awal tahun ini, sebagian besar area jendela juga telah ditutup, kecuali bagian depan gedung,” tuturnya.
Selain itu, perbaikan dilakukan pada area mezanin atau koridor penghubung antara bangunan sisi barat dan timur di lantai dua. “Sebelumnya, area tersebut tidak memiliki penutup sehingga air hujan mudah masuk saat terjadi tampias, sekarang area itu sudah ditutup,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pihak kampus masih terus berupaya menelusuri sumber utama kerusakan guna memastikan persoalan serupa tidak kembali terulang.
“Saat ini kita melakukan pengujian selama satu hingga dua bulan untuk memastikan tidak ada lagi air yang menetes ketika hujan,” katanya.
Ia menilai upaya penanganan sumber masalah tersebut sudah menunjukkan hasil yang cukup baik, “Perkiraanya sekitar 80 persen persoalan tampias air yang menjadi penyebab utama kerusakan plafon telah berhasil diatasi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Supendi menjelaskan bahwa perbaikan pada area koridor penghubung juga masih berada dalam tahap uji coba dan pemantauan. “Ini sedang diuji kurang lebih satu sampai dua bulan, karena percuma saja kita ganti plafon, tetapi kalau ternyata masih ada tetesan air sehingga plafon itu percuma,” ujarnya.
Terkait anggaran, Supendi menjelaskan bahwa dana pemeliharaan gedung tetap tersedia melalui anggaran operasional kampus. Namun, penggunaannya dilakukan berdasarkan skala prioritas dan diperuntukkan bagi seluruh gedung yang ada di lingkungan kampus.
“Kita pasang plafon, jebol lagi, itu uang semua yang kita pakai, makanya sementara ini setelah kita obati dalam waktu dekat kita perbaiki plafonnya, anggaran pemeliharaan memang ada, kita rutin operasional,” jelasnya.
Menurutnya, memperbaiki plafon sebelum sumber kerusakan benar-benar hilang justru berisiko menimbulkan pemborosan anggaran, karena plafon dapat kembali rusak dalam waktu singkat.
”Tetapi itu tadi, penyakitnya belum dihilangkan. Itu justru kita buang-buang uang,” ujarnya.
Menurut Supendi setelah dipastikan tidak ada lagi kebocoran maupun rembesan air yang masuk ke dalam gedung, pihak kampus berencana segera melakukan perbaikan plafon secara menyeluruh.
“Kami terus berupaya memperbaiki berbagai permasalahan gedung. Hanya saja, penanganannya harus dilakukan secara bertahap agar hasilnya benar-benar maksimal,” tutupnya.
Tanggapan Mahasiswa
Menanggapi kondisi tersebut, sejumlah mahasiswa yang ditemui di tempat, turut menyampaikan pandangan terkait kerusakan plafon di GKT. Salah satunya datang dari mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI’25), Muhammad Rangga Syah Putra.
Tinggalkan Balasan