Press ESC to close

Puasa tetapi Mudah Lelah? Bisa Jadi Pola Tidurmu Salah‎!

Di era digital saat ini, perangkat seperti smartphone, tablet, dan laptop telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Berbagai kegiatan, mulai dari bekerja, belajar, hingga mencari hiburan, kini banyak dilakukan melalui layar digital. Namun, penggunaan gadget yang berlebihan tanpa jeda yang cukup dapat menimbulkan dampak negatif, terutama terhadap kesehatan mata.

‎‎‎‎Situasi tersebut menjadi makin penting untuk diperhatikan ketika memasuki bulan Ramadan. Bulan penuh keberkahan ini membawa perubahan dalam rutinitas harian, tetapi juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga pola tidur yang sehat.

Perubahan jadwal makan serta meningkatnya aktivitas ibadah dapat memengaruhi ritme istirahat tubuh, sehingga berpotensi menurunkan kebugaran dan produktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami cara mengatur pola tidur yang tepat agar tetap berenergi dan fokus selama menjalankan ibadah puasa.

‎‎‎‎‎Tips Mengatur Pola Tidur Saat Puasa

‎Selama Ramadan, pola tidur sering berubah karena sahur dan berbagai aktivitas malam. Agar tubuh tetap bugar, ada beberapa cara yang bisa Anda terapkan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan.

1. Tidur lebih awal

Setelah berbuka puasa dan menunaikan salat tarawih, sebaiknya segera beristirahat. Hindari kegiatan yang membuat terjaga hingga larut malam seperti bermain ponsel atau menonton, agar tubuh memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum sahur.

2. Manfaatkan tidur siang

Jika waktu tidur malam berkurang, tidur siang singkat sekitar 20–30 menit dapat membantu memulihkan energi. Istirahat singkat ini juga dapat meningkatkan fokus dan mengurangi rasa lelah selama beraktivitas.

3. Batasi konsumsi kafein dan gula

Minuman berkafein seperti kopi atau teh pada malam hari dapat membuat tubuh sulit tidur. Selain itu, konsumsi gula berlebihan juga dapat mengganggu kualitas tidur, sehingga sebaiknya dibatasi.

4. Kurangi penggunaan gadget sebelum tidur

Cahaya dari layar ponsel atau perangkat elektronik dapat menghambat produksi hormon yang membantu tubuh mengantuk. Oleh karena itu, sebaiknya hentikan penggunaan gadget sekitar 30–60 menit sebelum tidur agar kualitas istirahat lebih baik.

5. ‎Aktivitas fisik dan mengelola stres

Melakukan olahraga ringan, seperti berjalan kaki setelah berbuka puasa atau menjelang tidur, dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks sekaligus meningkatkan kualitas tidur. Namun, sebaiknya hindari aktivitas fisik yang terlalu berat sebelum tidur karena dapat meningkatkan detak jantung dan membuat tubuh sulit untuk beristirahat.

Selain cara-cara di atas, Anda juga perlu membiasakan diri untuk tidak tidur larut malam. Selain karena lebih banyak memberikan dampak negatif, begadang juga dapat mengganggu ritme sirkandian tubuh.

Baca Juga:  Budaya Lebaran di Nusantara

Dampak Begadang Saat Puasa Bagi Kesehatan Tubuh

‎Bagi kalian yang sering begadang saat menjalankan ibadah puasa, kebiasaan ini dapat membuat tubuh kekurangan waktu istirahat dan memengaruhi kondisi kesehatan. Berikut adalah beberapa dampaknya.

‎1. Meningkatkan risiko diabetes

‎Beberapa literatur menunjukkan, bahwa gangguan tidur dapat meningkatkan risiko prediabetes, diabetes, serta resistensi insulin dan glukosa. Hal ini terjadi karena kurang tidur dapat mengacaukan ritme biologis tubuh. Ketika ritme tersebut terganggu, kinerja insulin juga ikut terpengaruh sehingga berpotensi memicu diabetes.

‎2. Menurunkan fungsi otak

Begadang saat puasa tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, tetapi juga kemampuan berpikir. Kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi dan memperlambat respons tubuh. Selain itu, kemampuan berpikir kritis juga dapat menurun sehingga seseorang cenderung mudah melamun atau terlihat linglung.

‎3. Menyebabkan kelelahan di siang hari

‎Tidur merupakan waktu bagi tubuh untuk memulihkan energi setelah beraktivitas. Saat tidur nyenyak (deep sleep), tubuh bekerja menyalurkan darah ke otak, memproduksi hormon, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Jika seseorang begadang, proses pemulihan ini tidak berjalan optimal sehingga tubuh terasa lelah keesokan harinya. Kondisi ini bisa makin terasa saat berpuasa karena asupan energi yang terbatas.

‎4. Berpotensi menambah berat badan

‎Kurang tidur juga berkaitan dengan peningkatan berat badan, bahkan dapat meningkatkan risiko obesitas. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan hormon yang mengatur nafsu makan, seperti kortisol, grelin, dan leptin. Ketidakseimbangan hormon tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah merasa lapar.

‎5. Kemungkinan hipertensi yang tinggi

‎Begadang dalam jangka waktu lama juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi atau tekanan darah tinggi. Normalnya, tekanan darah akan turun sekitar 10–20 persen saat seseorang tidur. Namun, jika tubuh tetap terjaga pada waktu tersebut, tekanan darah bisa meningkat dan berpotensi memicu hipertensi.

‎Menjaga pola tidur yang sehat selama bulan Ramadan merupakan hal penting agar tubuh tetap bugar dan produktivitas harian tidak terganggu. Perubahan jadwal makan dan ibadah memang menuntut penyesuaian, tetapi dengan mengatur waktu tidur secara tepat, dampak negatif seperti kelelahan, gangguan konsentrasi, hingga risiko masalah kesehatan dapat diminimalkan. Melalui kebiasaan tidur yang teratur, istirahat yang cukup, serta pengelolaan aktivitas harian yang seimbang, ibadah puasa dapat dijalani dengan lebih nyaman, optimal, dan penuh keberkahan.

‎Penulis: Habibila

‎Sumber rujukan:

https://www.kpoin.com/blog/lifestyle/cara-mengatur-pola-tidur-selama-puasa-agar-tetap-produktif

https://rsmramata.com/artikel/bahaya-penggunaan-gadget-berlebihan-bagi-kesehatan-mata-dan-saran-dari-ramata-eye-center

https://www.halodoc.com/artikel/ini-dampak-begadang-saat-puasa-bagi-kesehatan-tubuh

https://labcito.co.id/10-tips-atur-pola-tidur-saat-puasa-agar-tetap-produktif/

Redaksi Kronika

Kronika kini menjadi media mahasiswa yang telah memiliki pengalaman lebih dari dua dekade dalam menyajikan informasi, analisis, dan opini mengenai berbagai isu sosial, pendidikan, politik, dan budaya, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *